| Dennis, Dery, Anna, Kak Ita, Iwan, Saya, Benny, Widi |
Oke, setelah puas poto-poto di plang kebanggannya para pendaki dengan muka yang masih segar dan sumringah, kami siap berangkat dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo tepat pukul 15.00 WIB. Perjalanan Ranu Pani ke Ranu Kumbolo memakan waktu hampir 4 jam. Estimasi tersebut adalah untuk para pendaki profesional, tetapi untuk kami para pendaki amatir alias pendaki pemula alias pendaki hina (iya, yang terakhir itu khusus untuk saya) mungkin bisa sampai 5-6 jam.
Ciri khas dari mendaki gunung yaitu saling menyapa setiap berpapasan dengan sesama pendaki lainnya. Ga terasa sudah melangkah selama dua jam dengan istirahat beberapa kali juga tentunya, akhirnya sampai juga di Pos 1. Sambil meregangkan otot kaki dan pundak disini, kami beristirahat kurang lebih 5-10 menit.
Tujuan selanjutnya adalah Pos 2 yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan. Jalur pendakian dari Pos 1 ke Pos 2 masih terbilang landai dan tidak ada tanjakan yang terlalu curam. Jujur, saat itu badan saya sudah pegal, bahu saya sudah berteriak kesakitan mengangkat si koneng (keril saya) yang beratnya 45 liter, dan betis sudah berkonde. Tapi semangat untuk melihat Ranu kumbolo begitu besar, sehingga kami saling menyemangati satu sama lain yang sudah mulai kelelahan. Prinsipnya gini, kalo salah satu dari kami capek, maka kami semua harus istirahat. Disini ga pake gengsi, jadi kalo capek ya ngomong.
Nah, dari Pos 2 ke Pos 3 jalurnya mulai terasa tanjakan-tanjakannya. Apalagi selepas Pos 3 ke Ranu kumbolo itu perjuangan banget bro nanjaknya. Medan mulai terasa berat, kemiringan di atas 45 derajat dengan kondisi jalan yang penuh debu dan pasir.
Hari semakin larut, kami pun belum sampai di tujuan. Kami mulai mempercepat langkah, dan mulai menyalakan headlamp atau senter kami masing-masing. Makin malam juga semakin dingin, walaupun terus berjalan tapi udara dingin tetap terasa, saya pun langsung memakai jaket tebal saya. Ketua tim rombongan mulai menginstruksikan agar mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati karna hari semakin gelap. "Yuk, sebentar lagi sampe Rakum, kalian bisa beristirahat di tenda dan makan", kata Widi.
Tepat jam 8 malam, akhirnya kami sampai juga di Ranu kumbolo. Malam ini Ranu kumbolo tertutup oleh gelapnya malam. Hari ini memang cukup lelah, setelah makan malam dan merapihkan tenda, kami siap untuk tidur. Cuaca sangat dingin. Mungkin suhu udara malam ini sampai -5 derajat, dan buat saya yang ga tahan sama hawa dingin, saya sudah was-was dengan memakai pakaian double bahkan triple. Celana, baju, jaket, kaos kaki, sarung tangan, semuanya serba berlapis-lapis. Malam ini saya semangat sekali untuk cepat tidur. Kalian pasti tau kan alasannya kenapa. Tired. T-I-R-E-D!
Senin, 23 Juni 2014
RANU KUMBOLO - 06.00 WIB. I'm not a morning person, tapi kalo buat ngeliat keindahan alam hayok dah dipaksain bangun pagi. Diketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut saya berdiri disini. Iya, ini agak lebay sedikit. Takjub, ga percaya kalo saya bisa melihat lukisan se-indah ini. Saat itu saya hanya bisa berfikir, Tuhan lagi ngapain ya atau lagi mikir apa ya saat Dia menciptakan Ranu Kumbolo ini? Kalo kalian sudah pernah kesini, kalian pasti setuju dengan pendapat saya. Ini seperti surga tersembunyi. Iya, surga itu bernama Ranu kumbolo. Sempurna.
| Hepi treking, pemirsah.. |
Ciri khas dari mendaki gunung yaitu saling menyapa setiap berpapasan dengan sesama pendaki lainnya. Ga terasa sudah melangkah selama dua jam dengan istirahat beberapa kali juga tentunya, akhirnya sampai juga di Pos 1. Sambil meregangkan otot kaki dan pundak disini, kami beristirahat kurang lebih 5-10 menit.
| Pos 1 |
| Pos 2 |
Nah, dari Pos 2 ke Pos 3 jalurnya mulai terasa tanjakan-tanjakannya. Apalagi selepas Pos 3 ke Ranu kumbolo itu perjuangan banget bro nanjaknya. Medan mulai terasa berat, kemiringan di atas 45 derajat dengan kondisi jalan yang penuh debu dan pasir.
| Pos 3 |
Hari semakin larut, kami pun belum sampai di tujuan. Kami mulai mempercepat langkah, dan mulai menyalakan headlamp atau senter kami masing-masing. Makin malam juga semakin dingin, walaupun terus berjalan tapi udara dingin tetap terasa, saya pun langsung memakai jaket tebal saya. Ketua tim rombongan mulai menginstruksikan agar mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati karna hari semakin gelap. "Yuk, sebentar lagi sampe Rakum, kalian bisa beristirahat di tenda dan makan", kata Widi.
Tepat jam 8 malam, akhirnya kami sampai juga di Ranu kumbolo. Malam ini Ranu kumbolo tertutup oleh gelapnya malam. Hari ini memang cukup lelah, setelah makan malam dan merapihkan tenda, kami siap untuk tidur. Cuaca sangat dingin. Mungkin suhu udara malam ini sampai -5 derajat, dan buat saya yang ga tahan sama hawa dingin, saya sudah was-was dengan memakai pakaian double bahkan triple. Celana, baju, jaket, kaos kaki, sarung tangan, semuanya serba berlapis-lapis. Malam ini saya semangat sekali untuk cepat tidur. Kalian pasti tau kan alasannya kenapa. Tired. T-I-R-E-D!
Senin, 23 Juni 2014
RANU KUMBOLO - 06.00 WIB. I'm not a morning person, tapi kalo buat ngeliat keindahan alam hayok dah dipaksain bangun pagi. Diketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut saya berdiri disini. Iya, ini agak lebay sedikit. Takjub, ga percaya kalo saya bisa melihat lukisan se-indah ini. Saat itu saya hanya bisa berfikir, Tuhan lagi ngapain ya atau lagi mikir apa ya saat Dia menciptakan Ranu Kumbolo ini? Kalo kalian sudah pernah kesini, kalian pasti setuju dengan pendapat saya. Ini seperti surga tersembunyi. Iya, surga itu bernama Ranu kumbolo. Sempurna.
Udah cukup foto-fotonya? Belom. Udara pagi di Ranu kumbolo semakin dingin, dinginnya menusuk sampe ke tulang. Tanpa ada aba-aba, kami pun langsung nongkrong di samping kompor sebagai pengganti api unggun. Iya, kami semua kedinginan. Bahkan beberapa bahan makanan seperti minyak goreng pun ikut membeku. Dan makanan yang cocok untuk pagi ini apalagi kalo buka mi instan dan secangkir kopi. Gini nih ekspresi orang-orang yang kelaparan sambil menahan dinginnya pagi.
Here I am, at 2400 meters above sea level. Saat itu saya sedang berdiri sendiri dan bergumam dalam hati, mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas semesta yang Dia ciptakan begitu indah.
| Ranu Kumbolo - 23 Juni 2014 |
Lanjut ke surga berikutnya Tanjakan cinta, Oro-oro Ombo, Kalimati..

No comments:
Post a Comment