Monday, September 8, 2014

Indahnya BROMO ..

Yak, siapa yang gak kenal Gunung Bromo coba? Semua orang pasti tau, dan biasanya orang-orang pergi ke Gunung Bromo ketika acara rekreasi sekolah atau kelulusan masa sekolahnya. Tapi tidak dengan saya. Akhir tahun 2013 yang lalu saya baru menginjakkan kaki di Gunung Bromo. Merasa terlambat? Ya gak lah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Kali ini saya akan bercerita tentang indahnya Gunung Bromo. Perjalanan saya kali ini menggunakan kereta api menuju Malang, namun karna sudah kehabisan tiket kereta yang langsung menuju Malang, alhasil saya dan beberapa teman yang lain menggunakan kereta api via Surabaya dulu. 


Jumat pagi saya bertemu dengan beberapa teman yang berangkat dari Jakarta, di Stasiun Kota dengan Kereta Api Gaya Baru Malam menuju Surabaya. Kereta berangkat pukul 11.30 siang, perjalanan ini memakan waktu hampir 14,5 jam. Hmm… ini pertama kalinya saya naik kereta api untuk pergi ke luar kota yang hampir seharian aktivitasnya berada di dalam kereta. Ya, inilah nikmatnya jalan-jalan a la backpack / a la ransel / a la gembel atau apa ajalah itu sebutannya, yang mampunya beli tiket kereta api kelas ekonomi (tapi AC ya) demi sebuah "perjalanan". But I enjoyed it, for sure!


Tibalah saya di Stasiun Gubeng, Surabaya pukul 02.00 dini hari. Saya akan melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan KRL Commuter Penataran menuju Malang. Namun, karna kereta akan jalan pukul 05.00 pagi, jadi saya dan teman-teman lainnya menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk mencari sarapan pagi. Dan toko yang buka hanya Indomaret, jadilah saya membeli roti dan kopi serta cemilan untuk pagi ini dan untuk stok di kereta. Sisanya kami habiskan waktu untuk tidur-tiduran atau sekadar memejamkan mata saja di dalam stasiun.


Akhirnya, pukul 5 pagi kereta berangkat menuju Malang. Sekitar 3 jam perjalanan menuju Malang, dan tepat pukul 8 pagi kami tiba di Stasiun Malang. Sambil menunggu rekan-rekan lainnya yang belum datang, karna ada sebagian teman-teman kami yang naik pesawat, dan ada sebagian yang sudah stay di Malang dari dua hari yang lalu, saya istirahat dulu menghirup udara segarnya kota Malang di pinggiran stasiun, dan disambut dengan matahari Malang yang sangat terik namun tetap bersahabat.


Yey, finally


Sebelum melanjutkan perjalanan, seperti biasa dan telah menjadi tradisi, kami numpang foto-foto dulu, kali ini di depan Balai Kota Malang. Numpang pamer, biar ada kenang-kenangan kalo saya pernah menginjakkan kaki di Malang, hahaha... 


Hai, Malang..

Perjalanan kami lanjutkan menuju homestay dengan mencarter angkot yang ada di sekitar balai kota ini. Hampir satu jam perjalanan menuju homestay yang berada di Desa Gubuk Klah. Jam 11 siang tiba di homestay, kami langsung disuguhi makan siang oleh Ibu Lis (nama ibu yang punya homestay). FYI, masakan bu Lis ini enakkk bangettt, apalagi sambel dan tempe goreng yang tebel-tebel itu, juaraaa banget! Ini gak lebay, serius… banyak temen travelers yang kangen sama tempe + sambel bu Lis. Saya salah satunya!

Hap hap… setelah makan siang, kami langsung siap-siap untuk rafting di Sungai Amprong. Saya sangat antusias sekali ikut rafting ini. Maklum perdana nih ikut rafting, hahaha...


Sambil nunggu giliran pengarungan, kami ngopi-ngopi dulu ditemani dengan udara yang agak mendung, sambil foto-foto di rest area N'dayung (nama EO rafting tersebut). Setelah siap-siap dan memakai perlengkapan rafting, kami diangkut dengan mobil bak terbuka untuk diantar ke spot rafting yang terletak di atas bukit, dan dilanjutkan lagi dengan jalan kaki (trekking) melintasi bukit-bukit tersebut.


Okay, we are ready for rafting...



sebelum pengarungan, dikasih pengarahan dulu


Yes, we are ready!



Pengarungan selesai yang diakhiri dengan hujan lebat. Waktu menunjukkan pukul 6 sore ketika kami kembali ke homestay. Berhubung kamar mandi hanya ada dua biji, jadi sambil nunggu antrean, mending sambil makan malam aja dulu daripada ntar udah kehabisan, ya gak? hahaha...

Seperti biasa, sambel nikmatnya bu Lis ini bikin kepikiran terus (kemudian nambah dua piring), nom nom!


Waktu udah menunjukkan pukul 8 malam, saatnya kami tidur karna nanti harus bangun subuh untuk persiapan menuju pananjakan Bromo. Tapi masih ada sih beberapa teman yang masih bangun, masih  main gitar, masih main kartu, dan masih ha-ha hi-hi...


Minggu, jam 1 pagi kami saling membangunkan satu sama lain. Kali ini saya gak pake acara mandi karna udara terlalu dingin sampe menusuk tulang (iya, ini agak lebay sih). Lalu kami berangkat pukul 2 pagi dengan menggunakan jeep yang sudah parkir di depan homestay dengan gagahnya. Lagi-lagi karna udara pagi ini sangat dingin, apalagi anginnya sangat kencang kalo untuk berdiri di belakang Jeep, jadi saya memutuskan untuk duduk di depan saja—di samping supir.


Dua jam kemudian sampailah kami di Gunung Bromo. Masih terlalu gelap untuk melihat-lihat indahnya Bromo. Ahh, saya gak sabar... Kami pun mulai trekking menuju ke pananjakan 2 (Seruni Point) untuk mengejar sunrise. Di sini ada beberapa tukang jualan yang menjual kopi, teh, pop mie, dan pisang goreng. Sambil menunggu matahari terbit, saya memesan kopi panas dan pisang goreng untuk menghangatkan badan yang menggigil ini.


Tepat pukul 4.30 matahari mulai menampakkan dirinya. Kami pun mulai mangabadikan momen-momen ini. Tapi sayangnya karna sedikit mendung, jadi ketika gelap berubah menjadi terang, kabut pun datang menutupi awan. Hasil jepretan sunrise saya pun tak seindah yang saya harapkan. Jadi yang saya pamerin foto-foto selfie aja ya :b.


O ya, kebetulan waktu di puncak Bromo pas banget tanggal 22 Desember, so I dedicate this photo for my mom... Happy mother's day, mom! Maapken anakmu ini, Mah, di saat hari Ibu dia malah jalan-jalan entah ke mana…



Diedit sih, tapi yang penting niatnya kan :))



Setelah itu, kami bergegas ke bawah untuk ke kawah Bromo. Untuk mecapai puncak kawah Bromo ini, kita harus melewati hamparan pasir yang sangattt luas. Di sini juga banyak kuda-kuda yang disewakan sampai ke bawah anak tangga kawah Bromo. Per kuda bisa disewa seharga Rp 50.000 per orang untuk PP (pulang-pergi) atau tergantung tawar-menawar kalian dengan si kuda juga sih, hahaha...

Kalau saya memilih ga pake sewa kuda, jalan santai aja lah nanti juga sampe sendiri walopun ternyata cape juga. Setelah melewati hamparan pasir-pasir ini, barulah menaiki anak-anak tangga untuk sampai ke puncak kawah Bromo. Keliatan dari bawah, kayaknya tangganya dikiiit banget ya… Eh ngos-ngosan juga ternyata, padahal belum ada setengah anak tangga, saya udah kebanyakan berhentinya untuk ambil nafas, hahaha…

Sampailah saya di puncak kawah gunung Bromo. Cape euy… Tapi terbayarlah sudah sesampainya di atas. Menikmati pemandangan dari atas itu tuh suatu kepuasan tersendiri loh. Nikmatnya tuh di siniii *nunjuk kaki *pegel maksudnya hahaha…


Berikut penampakan saya di atas kawah Gunung Bromo, dengan muka ala kadarnya seolah-olah gak cape aja gituh. Ehem…


2.200 M.Asl

Tangga penyesalan, keliatannya pendek! Padahal.. ngos-ngosan juga..

Udah sampe puncak, saatnya turun. Kami turun tidak melewati tangga-tangga itu lagi, tapi turun langsung melewati pinggir kawah tersebut yang berpasir. Saya pun baru tau kalo turun gunung melewati pasir-pasir maka cara turunnya itu pake tumit kaki belakang, biar gak terjungkir katanya.

Okey, akhirnya sampe juga di bawah. Sambil istirahat dan menunggu teman-teman yang masuh turun, saya mau beli bakso malang dulu yang banyak berjejer dijual di sekitaran Gunung Bromo ini. Lumayanlah, walaupun saya makannya juga terburu-buru, ini bukan karna laper banget, melainkan karna di sini banyak banget kuda-kuda beserta dengan kotorannya yang berserakan di mana-mana, hehehe…


O ya, kurang afdol ga sih kalo ke Bromo yang notabene perjalannya pake jeep, tapi belom foto sama si jeep-nya. Maapken atas ke-selfie-an saya ini lagi...



Macam model papan penggilesan

Kami akan melanjutkan perjalanan ini ke pasir berbisik dan bukit teletubies. Yey! Namun karna lagi-lagi masalah waktu, jadi ketika tiba di pasir berbisik dan bukit teletubies, kami hanya mengabadikan gambar, lalu langsung bergegas pulang menuju homestay karna target jam 12 siang harus berangkat menuju Stasiun Malang. 

Bukit Teletubies.. *kemudian berpelukan*

Dari bukit teletubies kami langsung kembali ke homestay. Tiba di homestay, langsung packing dan makan siang. Ahhh, rasanya berat sekali meninggalkan rumah ini dan Ibu Lis tentunya, atau lebih berat meninggalkan tempe dan sambel si Ibu? Hahaha…

Minggu siang, tiba saatnya kembali ke Jakarta menggunakan KA Matarmaja, menyiapkan mental karna harus duduk selama kurang lebih 18 jam di dalam kereta. Tapi ada yang lebih berat lagi sih, ketika melihat realitas bahwa kembali ke rutinitas awal setelah liburan yang menyenangkan itu memang sangat berat, Jenderal

Tapi inilah hidup, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari setiap perjalanan saya. Saya kembali ke Jakarta dengan hati yang baru dan mempersiapkan lagi rencana untuk trip ke tempat yang baru juga… : )

I really missed this people!

JUST DON'T, baby ..

Note for share: biaya perjalanan ini sebesar Rp710.000 per orang, sudah termasuk tiket KA ekonomi (pp), angkot (pp), homestay (share room), makan makanan yang sampe lo pada dijamin kekenyangan, jeep, rafting, tiket masuk wisata, dan dokumentasi gratis, serta guide yang sangat friendly. Semua bisa kalian dapatkan di Trip to Hidden Paradise. Really-really, highly recommended. 

Ps: special thanks to Mas Andri and Mas Yama, for 4 days being our good guides. You both are so kind. See you next trip, mas-mas : ). Thank you.


Salam ransus,

Gunung Bromo - Malang
20-23 Desember 2013