Sunday, July 12, 2015

Mahameru (Part 3) : Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo, Kalimati

Setelah memanjakan mata di Ranu Kumbolo, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Oya, disini kalian ga perlu pake mandi. Trust me! Hanya bermodalkan tisue basah dan r*xona, kalian pasti akan terlihat seperti-- belum mandi! Ehehehe :) 

Setelah sarapan dan packing kembali barang bawaan kami ke dalam keril, kami siap berangkat menuju Kalimati yang berjarak 7,5 km melewati Cemoro kandang dan Jambangan tepat jam 9 pagi. Kalimati itu tempat kita beristirahat lagi, sebelum summit ke puncak Mahameru.


Wanita tangguh ala-ala..

TANJAKAN CINTA. Ini tanjakan paling hits setelah film 5 cm sukses ditayangkan. Tanjakan cinta adalah salah satu icon dari gunung Semeru, dan yang paling ditunggu-tunggu untuk melewatinya. Kalo saya, bilangnya ini tanjakan jomlo. Mitosnya gini, jadi selama kalian jalan melewati tanjakan cinta, kalian harus terus menatap ke depan sambil memikirkan laki-laki/perempuan yang kalian inginkan, tapi selama treking kalian ga boleh nengok kebelakang. Inget, gak-boleh-nengok-kebelakang! Hasilnya permintaan kalian akan terwujud. Kalo saya, saat itu memikirkan Tom Cruise :'( Doa anak sholehah biasanya sih dikabulin, AMIN!




Yey, saya sudah diatas tanjakan cinta. Kalo dilihat dari foto kelihatannya landai ya.. padahal baru saja saya melangkah 10 langkah sudah langsung ongkek (ongkek = bengek), kasian ya saya. Saya langsung beristirahat dibawah pohon, sambil menunggu teman-teman yang lain yang masih berjuang melawan "cintanya" :( Oke, begini nih pemandangan dari atas tanjakan cinta.



Yap, setelah melewati tanjakan cinta atau sebenarnya sih yang paling-cocok-banget disebut tanjakan penyesalan, akhirnya kami disuguhkan pemandangan yang ga kalah kece. Turunan! Yey, akhirnya ada turunan juga. Thank God! Dan seketika mata saya melihat hamparan bunga berwarna ungu.

ORO-ORO OMBO. Entah kenapa orang-orang menyebutnya itu adalah padang lavender. Mungkin karna bunganya seperti bunga lavender yang berwarna ungu. Padahal bukan. Itu adalah Verbena Brasiliensis Vell.


dilihat dari atas (setelah tanjakan cinta)

Menurut informasi yang saya baca dari mbah google, luas Oro-oro Ombo ini mencapai 20 hektar. Meski terlihat indah, kehadiran Verbena brasiliensis ini justru mencemaskan. Tanaman asing ini bersifat invasif, bisa terus mendominasi dan menguasai habitat sehingga menggusur spesies tanaman asli disana. Ekosistem pun kemudian terganggu.

ampuni ekspresi saya, plis :|
kak Ita

Setelah melewati Oro-oro Ombo, perjalanan ini dimulai lagi menuju pos Cemoro Kandang. Sesuai dengan namanya, kami melewati hutan yang berisi pohon cemara dan pinus. Jangan pernah meremehkan trek cemoro kandang ini, dan jangan mengharapkan adanya turunan. Semuanya menanjak, menanjak, dan menanjak. Bonusnya cuma satu, yaitu istirahat langsung ditempat aja. Sambil istirahat sambil ngobrol sama tim, saling cela, ledek-ledekan, ngambil makanan temen, capek itu langsung terasa hilang.



Setelah istirahat 10 menit di Cemoro Kandang, kami melanjutkan ke pos berikutnya yaitu Jambangan. Dari pos ini kita sudah bisa melihat dengan jelas gunung Semeru. Kami melanjutkan perjalanan ke pos terakhir yaitu Kalimati. 

KALIMATI. Trek perjalanan dari Jambangan menuju Kalimati relatif mudah dan bisa dibilang bonus karna trek cukup landai. Perjalanan kira-kira 30 menit, dan sekitar jam 1 siang kami sudah sampai di Kalimati. Dari sini Gunung Semeru terlihat sangat dekat sekali dan berdiri dengan gagahnya. 


Muka udah gak ke kontrol


Kalimati - 23 Juni 2014

Di pos Kalimati ini terdapat sumber air bersih, namanya Sumbermani. Perjalanan ke Sumbermani dari Kalimati untuk mengambil air saja bisa hampir 45 menit (pulang dan pergi). Cukup jauh memang. Jadi kami membagi tugas, beberapa orang (baca : laki-laki) mengambil air untuk keperluan masak dan stok minum, dan sebagian lagi (baca : cewe-cewe) memasak untuk makan siang kami. Ini adalah pos pemberhentian terakhir, sebelum kami summit ke puncak Mahameru nanti subuh :)

Wednesday, July 8, 2015

Mahameru (Part 2) : Surga Itu Bernama Ranu Kumbolo

Perkenalkan.. ini dia tim saya, Wakatobi namanya, terdiri dari 7 orang. Didampingi fasilitator (guide) bernama Widi, itu tuh yang berdiri di paling kanan. Widi, si pecinta musik death metal tapi berhati Inul Daratista, yang perhatian banget sama timnya. 


Dennis, Dery, Anna, Kak Ita, Iwan, Saya, Benny, Widi

Oya, kami berangkat ke Semeru ini ada dua tim, dan tiap tim harus ada 1 orang fasilitator yang mendampingi tim selama perjalanan. Nah, tim kedua namanya Raja Ampat ada 9 orang dan 1 fasilitator namanya Rizqi 'bocil' dengan moto "badan boleh kecil, tapi kekuatan luar biasa"..

Oke, setelah puas poto-poto di plang kebanggannya para pendaki dengan muka yang masih segar dan sumringah, kami siap berangkat dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo tepat pukul 15.00 WIB. Perjalanan Ranu Pani ke Ranu Kumbolo memakan waktu hampir 4 jam. Estimasi tersebut adalah untuk para pendaki profesional, tetapi untuk kami para pendaki amatir alias pendaki pemula alias pendaki hina (iya, yang terakhir itu khusus untuk saya) mungkin bisa sampai 5-6 jam.

Hepi treking, pemirsah..

Ciri khas dari mendaki gunung yaitu saling menyapa setiap berpapasan dengan sesama pendaki lainnya. Ga terasa sudah melangkah selama dua jam dengan istirahat beberapa kali juga tentunya, akhirnya sampai juga di Pos 1. Sambil meregangkan otot kaki dan pundak disini, kami beristirahat kurang lebih 5-10 menit. 


Pos 1

Tujuan selanjutnya adalah Pos 2 yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan. Jalur pendakian dari Pos 1 ke Pos 2 masih terbilang landai dan tidak ada tanjakan yang terlalu curam. Jujur, saat itu badan saya sudah pegal, bahu saya sudah berteriak kesakitan mengangkat si koneng (keril saya) yang beratnya 45 liter, dan betis sudah berkonde. Tapi semangat untuk melihat Ranu kumbolo begitu besar, sehingga kami saling menyemangati satu sama lain yang sudah mulai kelelahan. Prinsipnya gini, kalo salah satu dari kami capek, maka kami semua harus istirahat. Disini ga pake gengsi, jadi kalo capek ya ngomong.

Pos 2

Nah, dari Pos 2 ke Pos 3 jalurnya mulai terasa tanjakan-tanjakannya. Apalagi selepas Pos 3 ke Ranu kumbolo itu perjuangan banget bro nanjaknya. Medan mulai terasa berat, kemiringan di atas 45 derajat dengan kondisi jalan yang penuh debu dan pasir. 


Pos 3

Hari semakin larut, kami pun belum sampai di tujuan. Kami mulai mempercepat langkah, dan mulai menyalakan headlamp atau senter kami masing-masing. Makin malam juga semakin dingin, walaupun terus berjalan tapi udara dingin tetap terasa, saya pun langsung memakai jaket tebal saya. Ketua tim rombongan mulai menginstruksikan agar mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati karna hari semakin gelap. "Yuk, sebentar lagi sampe Rakum, kalian bisa beristirahat di tenda dan makan", kata Widi. 

Tepat jam 8 malam, akhirnya kami sampai juga di Ranu kumbolo. Malam ini Ranu kumbolo tertutup oleh gelapnya malam. Hari ini memang cukup lelah, setelah makan malam dan merapihkan tenda, kami siap untuk tidur. Cuaca sangat dingin. Mungkin suhu udara malam ini sampai -5 derajat, dan buat saya yang ga tahan sama hawa dingin, saya sudah was-was dengan memakai pakaian double bahkan triple. Celana, baju, jaket, kaos kaki, sarung tangan, semuanya serba berlapis-lapis. Malam ini saya semangat sekali untuk cepat tidur. Kalian pasti tau kan alasannya kenapa. Tired. T-I-R-E-D!

Senin, 23 Juni 2014
RANU KUMBOLO - 06.00 WIB. I'm not a morning person, tapi kalo buat ngeliat keindahan alam hayok dah dipaksain bangun pagi. Diketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut saya berdiri disini. Iya, ini agak lebay sedikit. Takjub, ga percaya kalo saya bisa melihat lukisan se-indah ini. Saat itu saya hanya bisa berfikir, Tuhan lagi ngapain ya atau lagi mikir apa ya saat Dia menciptakan Ranu Kumbolo ini? Kalo kalian sudah pernah kesini, kalian pasti setuju dengan pendapat saya. Ini seperti surga tersembunyi. Iya, surga itu bernama Ranu kumbolo. Sempurna.







Udah cukup foto-fotonya? Belom. Udara pagi di Ranu kumbolo semakin dingin, dinginnya menusuk sampe ke tulang. Tanpa ada aba-aba, kami pun langsung nongkrong di samping kompor sebagai pengganti api unggun. Iya, kami semua kedinginan. Bahkan beberapa bahan makanan seperti minyak goreng pun ikut membeku. Dan makanan yang cocok untuk pagi ini apalagi kalo buka mi instan dan secangkir kopi. Gini nih ekspresi orang-orang yang kelaparan sambil menahan dinginnya pagi.


Here I am, at 2400 meters above sea level. Saat itu saya sedang berdiri sendiri dan bergumam dalam hati, mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas semesta yang Dia ciptakan begitu indah. 



Ranu Kumbolo - 23 Juni 2014

Lanjut ke surga berikutnya Tanjakan cinta, Oro-oro Ombo, Kalimati..

Tuesday, June 23, 2015

Mahameru (Part 1) : Menuju Tanah Tertinggi Pulau Jawa

Setelah membiarkan blog ini cukup lama kosong dan berdebu, akhirnya saya memulai lagi perjalanan (menulis) saya *sapuin blog*.. Tepat setahun yang lalu saya mendapat ajakan dari sepupu saya, Anna, yang pengen banget menginjakkan kaki di Mahameru.

Kalian tau kan Gunung Semeru? 3676 meter di atas permukaan laut, orang-orang bilang itu adalah puncaknya para dewa. Pemandangannya yang indah seperti yang ada di lukisan-lukisan, bahkan di negeri dongeng. Serius. Ini beneran.

Entah apa yang ada di benak saya pada saat itu, sehingga saya meng-iya-kan ajakan Anna, dan memberanikan diri untuk ikut melangkah ke tanah tertinggi pulau Jawa itu.


Semeru Track Map

Kami memutuskan menggunakan jasa Trip Organizer (TO) dari Wisata Gunung. Dan karna kami daftarnya sudah agak mepet, jadi tiket kereta yang disediakan oleh TO sudah habis. Jadilah saya, Anna, dan kakak saya, langsung berburu tiket kereta api sendiri menuju meeting point di stasiun Malang.

Persiapan kami untuk mengurus keperluan dan perlengkapan tinggal satu bulan lagi. Persiapan yang dimaksud disini misalnya, surat keterangan sehat dari Dokter, perlengkapan hiking seperti tas keril, sleeping bag, matras, jaket, dan perlengkapan lainnya, dimana perlengkapan tersebut saya tidak punya semua. Maklum, saya bukan anak gunung. Oya, kesiapan mental dan fisik juga harus ada.

Grup kami di beri nama grup Wakatobi yang berisi 7 orang, yaitu : Iwan, Dery, Benny, Dennis, Kak Ita, Anna, dan saya. Dan di dampingi oleh Widi, sang fasilitator Wakatobi.

Sabtu, 21 Juni 2014
Oke, perjalanan dimulai hari ini. Saya, kak Ita, Ana, Dennis dan Benny janjian di stasiun senen jam 3 sore. Oya, Dennis dan Benny baru kenal di trip ini, sebelumnya kita cuma kontek-kontekan lewat grup di WA. Sisa peserta dan panitia lainnya akan langsung ketemuan di stasiun Malang.



Banyak ritual yang harus kami lakukan sebelum naik kereta. Misalnya : makan, cari cemilan, (maaf) pup, pipis, kalo perlu mandi juga hahaha.. Maklum, soalnya kami akan menghabiskan waktu kurang lebih 14 jam perjalanan (itu juga kalo on time) di dalam kereta. Bayangin aja.. Iya, coba kalian bayangin sendiri ya (saya sih ogah bayanginnya lagi) kalian akan duduk sebangku bertiga, dimana kursinya tegak lurus dan hanya sekecil daun kelor, bertabrakan kaki dengan penumpang yang ada di depan kalian, bertatapan mata dengan orang-orang yang kalian gak kenal sebelumnya selama empat belas jam.


                                                           IYA, EMPAT - BELAS - JAM!

Okeh, setelah ritual selesai, kereta Majapahit sudah nangkring dengan gagahnya menunggu kedatangan kami. Iya, kami manusia-manusia modal dengkul ini akan berangkat dari stasiun pasar senen jam 17.20 WIB dan akan sampe di stasiun Kotabaru Malang jam 8 pagi keesokan harinya (yah, itu juga kalo on time!) peace, kang masinis..

Minggu, 22 Juni 2014
Nah kan, ga on time kan.. Pantat udah panas, badan encok, perasaan resah dan gelisah menunggu datangnya stasiun Kotabaru Malang yang tak kunjung tiba. Molor 2 jam, pemirsah.. Tepat jam 10 pagi kami sampai di stasiun Kotabaru Malang, dan di sambut "panas" oleh teman-teman lainnya, dan pas banget cuaca Malang saat itu panas banget.

Angkot sewaan sudah terpampang nyata di depan stasiun Malang, siap untuk mengantar kami ke pasar Tumpang untuk sarapan pagi dan sekalian melengkapi bahan-bahan logistik untuk lima hari ke depan. Sekitar 30 menit, kami pun sampai di pasar Tumpang. Oke, saatnya be.. lan.. ja..

Jam 12 tepat kami berangkat dari pasar Tumpang menuju rest area (saya lupa nama rest area-nya apa) untuk bertukar kendaraan dengan menggunakan Jeep menuju Pos Pendakian Ranu Pani. Pasti ada yang nanya, kenapa sih naik angkotnya gak langsung sampai ke Ranu Pani aja? FYI, semenjak wisata di Malang ini booming, warga setempat akhirnya membagi-bagikan "jatah tempat" antara supir angkot dan kendaraan Jeep. Jadi sekarang mobil Jeep sudah tidak bisa lagi di pesan dari stasiun Malang (sebelumnya bisa).

Waktu perjalanan kira-kira 2 jam untuk sampai ke Ranu Pani. Jalan bebatuan dan rusak yang kami tempuh, tak mengurangi rasa kebersamaan dengan teman-teman untuk lebih mengenal satu sama lain. Sambil melihat pemandangan sekitar yang penuh dengan hamparan bungan edelweis, tak terasa kami sudah sampai di Ranu Pani.


mukanya masih pada seger :)

RANU PANI, di ketinggian 2100 mdpl kami semua berkumpul di pos pendakian untuk pengecekan perlengkapan treking oleh pihak yang berwajib. Pengecekan yang standard, kami harus memperlihatkan apakah kami masing-masing orang membawa matras, sleeping bag, sepatu treking, tidak membawa segala jenis sabun, dan tidak membawa benda-benda tajam tentunya. Oya, perlengkapan yang gak penting di bawa atau yang hanya berat-beratin keril kalian, bisa di titipkan disini. Nanti pas pulang di ambil lagi jangan lupa yak..

Setelah pengecekan selesai, kami di bawa ke sebuah warung makan. Ini adalah tempat yang biasa anak-anak gunung pakai sebagai base camp mereka untuk makan, tidur, atau (maaf) buang air besar/kecil, bahkan mandi. Karna ini adalah WC satu-satunya dan terakhir sebelum kami harus gali lubang tutup lubang.

Makan siang sudah, bercanda sudah, mandi, buang-buang yang gak penting sudah, oke saatnya berangkat menuju Ranu Kumbolo. Iya, Ranu Kumbolo! Denger namanya aja saya udah deg-degan dan merinding, hahaha.. iya emang lebay sih, tapi emang itu yang saya rasain pada saat itu.  Butuh waktu 5-6 jam untuk sampai kesana.

Kami berdoa bersama minta keselamatan agar pergi dan pulang sampai dengan selamat. Ingat guys, puncak adalah bonus dari sebuah perjalanan. Kebersamaan, kekeluargaan, perjuangan dan kembali pulang yang menjadi hal penting dari sebuah perjalanan :)


Ranu Pani - 22 Juni 2014

Menuju Ranu Kumbolo, guys..

Ranu Pani
22 Juni 2014

Wednesday, April 8, 2015

Jatuh Cinta pada Bali

Saya kangen Bali, bahkan mungkin saya jatuh cinta pada Bali...

Iya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Pulau Dewata itu. Dan saya memutuskan untuk pergi ke Bali lagi, setelah satu setengah tahun yang lalu saya berlibur ke sana (baca juga edisi pertama saya di Bali, Tujuh Tahun yang Lalu ). 

Saya akan ceritakan beberapa tempat (lagi) yang saya kunjungi tahun 2010 ini. Gak banyak sih, beberapa ada yang sama dengan sebelumnya, tapi lumayanlah menambah referensi baru, betapa indahnya Pulau Dewata itu :)

Let's check it out

1. Pantai Sanur
Pantai Sanur dikenal sebagai sunrise beach (pantai matahari terbit) sebagai lawan dari pantai Kuta. Bedanya dengan pantai Kuta, ombaknya pantai Sanur cukup tenang. Jadi, pantai Sanur tidak bisa dipakai untuk surfing seperti di pantai Kuta.

Ketika saya ke sini, pantai ini sangat sepi sekali pengunjunganya. Hanya ada beberapa wisatawan yang ingin snorkling. Saya pun tidak terlalu lama di sini, dan tidak terlalu banyak mengambil gambar, karna cuaca yang agak mendung. 

Disini juga ada beberapa toko yang menjual barang-barang souvenir seperti kain bali, sendal manik, dan beberapa barang unik lainnya, tetapi harganya lumayan agak mahal kalo menurut saya, dan susah sekali menawarnya.


2. Tanah Lot
Gak bosen-bosennya saya ke Tanah Lot. Walaupun sebelumnya sudah pernah ke sini, dan saya juga berjanji kalo ke Bali lagi, pasti mau ke sini lagi. Saya kangen dengan suasana yang ada di Tanah Lot, apalagi melihat warga setempat yang sedang melakukan ritual sembahyang di pura. Walaupun saya tidak mengerti dengan ritual tersebut, tapi entah kenapa saya sangat menikmati momen tersebut. Kalian pasti setuju dengan saya? :)

Sambil menunggu sunset, saya pun menyeruput kopi yang saya telah saya pesan sebelumnya. Dalam hati bergumam, indah sekali negeri saya ini, ya Tuhan…

sunset at Tanah Lot

3. Pantai Dreamland
Pantai Dreamland terletak di sebelah selatan Bali di daerah Pecatu. Untuk sampai ke pantai ini, membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari pantai Kuta. Memang perjalanan cukup panjang dan jauh, tapi kalian gak bakal nyesel kalo udah sampe di sini. Percaya deh!

Pantai Dreamland dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi, dan dikelilingi batu karang yang lumayan besar di pinggiran pantai. Pasir putih dan celah karang yang terjal menjadi pemandangan yang begitu memikat mata dan cocok banget berlama-lama di sini untuk menikmati matahari tenggelam, atau cuma melihat atraksi para bule-bule berselancar… *lope-lope di udara*

Awesome beach...

nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan..?
1 2 3.. *tahan perut*

4. Pura Luhur Uluwatu
Pura luhur Uluwatu ini terletak di daerah Pecatu juga. Pura ini berdiri megah di ketinggian sekitar 97 meter di atas permukaan laut dan berpijak pada anjungan batu karang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut. Nah, bayangin sendiri dah tu yee… hahaha…

Pemandangan indah, hamparan samudera luas di depan mata dengan awan dan deburan ombak birunya yang fantastis merupakan kegiatan yang dapat dinikmati begitu kaki saya berada di Pura Luhur Uluwatu ini. Selain itu, kita juga dapat memanjakan mata dengan mengagumi arsitektur bangunan pura-pura yang ada di sini.

Uluwatu


O ya, kalian harus hati-hati ketika melintasi sepanjang pintu masuk Uluwatu ini, karna banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran. Sebaiknya kalian masukkan dulu barang-barang penting, seperti kacamata, handphone, atau perintilan lainnya ke dalam tas supaya gak diambil monyet-monyet tadi.

Untuk memasuki objek wisata Pura Luhur Uluwatu ini, wisatawan harus membayar tiket sebesar Rp3.000 untuk orang dewasa dan Rp1.500 untuk anak- anak.

5. Blue Point Beach
Pantai ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali lainnya. Pantai Blue Point berada di bawah tebing-tebing terjal yang tinggi. Jadi, untuk mencapai bibir pantai, kami harus berjalan kaki naik dan turun anak tangga di antara tebing-tebing tersebut. 

Untuk menuju lokasi pantai Blue Point, kalian harus mengambil arah ke Pura Uluwatu. Lalu, masuk melalui gapura Blue Point Villas. Waktu saya ke sini, gak ada tiket masuk, cukup membayar tiket parkir kendaraan saja. Pemandangan dari atas bukit sangat indah. Sejauh mata memandang, hanya laut dan langit yang biru cerah yang saya lihat.

pemandangan dari atas tebing ke arah laut

dan saya pun sudah mulai menggosong, hahaha..

6. Pantai Lovina
Ketika pantai ini masuk ke dalam list perjalanan kami, saya pun langsung berharap harus bertemu dengan lumba-lumba yang cantik di tengah laut Lovina.

Perjalanan dari Denpasar ke pantai Lovina yang berada di daerah Singaraja, kurang lebih tiga jam dengan menggunakan mobil.

Kalo kalian mau bangun jam 3 pagi untuk langsung menuju pantai Lovina, bisa saja sih. Tapi kalo saya dan teman-teman lebih memilih untuk menginap semalam saja di dekat pantai Lovina. Banyak hostel murah yang berjejer di tepian pantai ini, dan carilah yang paling murah karna hanya dipakai untuk tidur beberapa jam saja koq, kan pagi-pagi harus langsung berangkat ke tengah laut demi melihat lumba-lumba yang menari-nari. 

pantai Lovina

Kami berangkat menuju tengah laut pukul 5.30 pagi. Dan lumba-lumba pun mulai nampak ke permukaan laut dengan malu-malu. Mereka pun mulai menari-nari layaknya sedang ditonton oleh ribuan orang. Sayangnya hanya sebentar, kemudian mereka pun bersembunyi lagi.

Gak ada yang menjamin 100% kemunculan  lumba-lumba. Semua tergantung faktor alam. Faktor kemunculan yang paling utama adalah cuaca. Cuaca yang cerah  akan menjadi magnet bagi lumba lumba untuk muncul ke permukaan. 

lumba-lumba tiba-tiba muncul di samping perahu kalian, who knows?..

7. Pura Taman Ayun
Sekilas saja tentang Pura Taman Ayun ini yang terletak di Mengwi, mempunyai arti taman yang sangat indah. Lebih indah lagi karena dikelilingi oleh kompleks taman dan telaga.

Pura Taman Ayun terdiri atas 4 halaman yang berbeda, yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Halaman pertama disebut dengan Jaba yang bisa dicapai hanya dengan melewati satu-satunya jembatan yang berada di sisi kolam dan pintu gerbang.

Taken from google
Karna cuaca hari itu turun hujan, jadi kami tidak sempat untuk mengelilingi seluruh isi Pura Taman Ayun ini. Jadilah kami berteduh di sisi pura sambil menunggu hujan reda, dan langsung berangkat lagi menuju destinasi selanjutnya.

8. Ulun Danu Beratan - Bedugul
Nah, ini dia danau yang paling hit di Bali. Coba sekarang kalian liat uang pecahan Rp50.000 deh. Iya, sekarang… Kalo punya uang, hehehe… 


hayooo.. jangan senyum-senyum sendiri gitu..

Tak ada kata yang dapat saya katakan di sini, selain bersyukur, takjub, dan ahhh apa lagi ya... Sudah habis kata-kata saya selama seminggu di Bali. Mungkin kalo kata orang-orang, ini yang disebut dengan surga. Kedengerannya sih lebay, tapi kalo kalian sudah pernah ke sini, pasti kalian setuju dengan pendapat saya.

This is incredible…

(again) nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan..?

9. Garuda Wisnu Kencana
Tempat ini juga sudah pernah saya kunjungi satu setengah tahun yang lalu, tapi tetap saja kurang puas rasanya ke Bali kalo ga mampir ke GWK.

Oke, saya share foto-foto (selfie-nya) saja yaa… mudah-mudahan kalian gak mual :D

Statue of Peace
Peace, yaa..

10. Tampaksiring
Istana Tampaksiring ini berada di daerah Gianyar. Selain pura, di tempat wisata ini terdapat istana kepresidenan yang didirikan oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai tempat peristirahatan beliau saat berkunjung ke Bali. 

Hanya foto-foto di luar istana yang dapat saya tampilkan di sini, hahaha… karna waktu saya ke sini, istananya itu lagi tutup hari libur nasional. Oke sip, bye… *kemudian menghilang*


11. Goa Gajah
Goa Gajah ini termasuk objek wisata yang patut dan wajib dikunjungi di Bali. Kenapa lagi-lagi saya bilang patut kalian kunjungi? Ya, karna semua pemandangan di Bali ini mahal, bro n sis…! Kalo kalian ke sini, kalian pasti langsung teringat film Eat, Pray, Love-nya Julia Roberts.

Oke, apa kalian berharap akan bertemu gajah di sini? Tentu saja tidak, hahaha… Di sini sama sekali gak ada gajah, pemirsah. Sebutan Goa Gajah ini hanyalah karna goa tersebut gambarnya menyerupai gajah. 

Berada persis di sebelah kanan jalan raya jalur Ubud - Kintamani. Kalo dari Denpasar, hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke goa ini.

Memasuki kawasan wisata Goa Gajah, seperti biasa kita akan disambut deretan toko suvenir. Untuk masuk dan menikmati Goa Gajah, kita harus membayar tiket sekitar Rp6.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak.

Di loket juga disediakan Kamen (sarung khas Bali) yang bisa dipakai untuk mereka yang bercelana pendek. Salah satu aturan untuk masuk ke tempat ini adalah harus berpakaian rapi, dan tidak sedang datang bulan bagi perempuan. 

Dari area parkir menuju Goa Gajah Ubud, wisatawan harus menuruni tangga yang lumayan curam. Tempat ini dikelilingi pepohonan hijau yang rindang, sehingga suasananya sangat sejuk dan asri. Keren deh pokoknya, suer...

ini nih Goa Gajahnya..

pardon my face :|

I'm falling in love at the first time with you, Bali. And I promise, I will come back again (soon)… *ngarep*

Salam ransus,

Pulau Dewata - Bali
26 Mei - 2 Juni 2010

Friday, January 30, 2015

Bali, Tujuh Tahun yang Lalu~


Ahayyy... Baliii…

Ya, begitulah perasaan saya waktu itu ketika saya mau liburan ke Bali. Iya, iya, maaf saya norak. Tapi siapa sih yang gak seneng kalo bisa liburan ke Bali? Apalagi kalo gratis, ya kan?

Pesawat berangkat dari bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 21.00 dan tiba di bandara Ngurah Rai sekitar pukul 23.00 WITA.

Bandara Ngurah Rai ini masih tergolong bandara yang jauh dari ekspektasi saya (waktu itu). Di saat orang-orang bule tertuju semua ke Bali, tempat wisatawan asing haus akan keindahan Indonesia, tapi bandara ini masih tergolong bangunan lama, gelap, dan (maaf) lusuh. Iya, itu fakta, keadaan bandara itu ketika tahun 2008 saya ke sana. Tapi tenang… ini tidak mengurangi kecintaan saya pada Bali. Tak sedikit pun.

Oke, lupakan bandara Ngurah Rai, sekarang langsung aja saya ceritakan beberapa tempat/spot terbaik di Bali yang sudah saya kunjungi.

1. Pantai Kuta
Siapa yang gak kenal pantai ini? Iya, pantai Kuta adalah jantungnya Pulau Dewata. Pantai ini merupakan tujuan utama wisata turis, baik turis lokal maupun mancanegara, dan menjadi objek wisata andalannya Pulau Bali. 

Silahkan kalian memanjakan mata disini, karna banyak bule-bule yang berselancar atau cuma sekadar berjemur saja di pantai, lumayanlah buat cuci mata. Kalian bisa menikmati sunrise bahkan sunset juga bagus disini, karna dari pagi sampe malam pun pantai ini ga ada sepinya. Belom sah rasanya ke Bali kalo belom ke pantai Kuta.

Tahun 2008 ketika saya ke sini, pantainya masih sepi dan rapi, bebas dari sampah. What a perfect beach.



2. Hard Rock Bali
Ya, di sini adalah tempatnya anak muda bergaul—bukan digauli tapi, ya. Tempat nongkrongnya bule-bule dari pagi sampai pagi lagi. Sayangnya, saya ke sini bukan untuk nongkrong. Gak modal memang (kasian ya? ), cuman numpang poto doang koq, hahaha. 

Di sini ada patung papan surfing superjumbo yang terpampang tepat di depan Hard Rock Hotel. Biasanya papan surfing ini dibuat atau di-design sesuai dengan temanya pada saat itu. Nah, ga afdol dong kalo belum pamer foto beginian di Bali.

Keterangan (gak penting): foto ini diambil tiap hari, karna tiap hari juga saya lewatin jalan ini mulu. Karna ogah rugi, jadi tiap lewat sini numpang foto-foto dulu (norak, norak deh gue, hahaha).

Hard Rock Hotel Bali, di siang hari
Hard Rock Hotel Bali, di malam hari

3. Monumen Bom Bali
Monumen Bom Bali ini terletak di jalan Legian. Daerah ini merupakan daerah yang paling ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. Untuk ke Monumen ini gampang banget, karna selain berada di tempat yang ramai wasatawan, juga merupakan kawasan atau jalur yang kita lewati kalo mau ke pantai Kuta.

Banyak kafe, toko, dan restoran yang ada di daerah ini. Memang, kebanyakan ditujukan untuk wisatawan mancanegara.

Masih inget kejadian bom Bali di tahun 2002? Iya, monumen ini dibuat untuk mengenang 202 orang korban bom Bali di Sari Club dan Paddy Cafe di jalan Legian itu. Di dalam monumen tersebut tertuliskan nama orang-orang yang menjadi korban bom Bali.

monumen Bom Bali

Monumen ini selalu ramai dikunjungi. Banyak wisatawan yang datang ke sini sekadar untuk melihat dan berfoto-foto atau untuk mengenang korban bom Bali. Banyak juga yang numpang istirahat sebentar karna cape menyusuri jalan Legian (saya contohnya) setelah berbelanja ataupun yang habis dari pantai Kuta.

4. Don Antonio Blanco Museum
Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dikenai biaya tiket masuk yang berbeda, yaitu Rp20.000 untuk wisatawan domestik, dan Rp40.000 untuk wisatawan asing (2008).

Setelah bayar tiket masuk, kami disajikan welcome drink berupa sirup jeruk. Tau aja mereka kalo perjalanan menuju museum Antonio Blanco ini sangat jauh, jadi setiap wisatawan dikasih minuman gratis. Tak hanya itu, wisatawan juga akan didampingi oleh pemandu yang siap mengantarkan dan menceritakan sejarah kehidupan Antonio Blanco sejak awal kariernya hingga menetap dan meninggal di Bali.

Museum Renaissance Antonio Blanco ini terletak di Jalan Raya Campuhan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Museum ini buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WITA.

halaman depan museum Antonio Blanco
beberapa lukisan Blanco yang di pajang di dalam museum

5. Tanah Lot
Wajib! Kalian wajib banget ke sini kalo ke Bali. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya lagi terletak di atas tebing. 

Sayangnya, waktu saya ke sini, air laut lagi pasang, jadi ga bisa naik ke atas tebing melihat pura itu. Dan hari itu sedang ada sembahyang rutin oleh umat Hindu. Gak puas sih, tapi dalam hati, saya berucap kalo lain kali datang ke Bali lagi, harus ke sini. 

Tanah Lot ini tempat yang sangat romantis. Jangan coba-coba kalian ke Tanah Lot sendirian, karna kalian akan menangis di pojokan melihat kemesraaan orang-orang di sini (untung saya kesini se-RT, jadi aman).

Banyak banget orang berpasang-pasangan, baik wisatawan asing atau wisatawan lokal. Baik laki-laki dengan wanita, atau laki-laki dengan … hmmm--- oke, skip! Hahaha… Cocok banget buat kalian yang mau honeymoon di sini. Tapi buat kalian yang ke sini sama teman-teman cewe (saya contohnya), selamat, duit kalian akan habis terkuras karna gatel pengen belanja barang-barang unik di sini. 


what a romantic place..
menunggu sunset

6. Pasar Seni Sukawati
Pasar Sukawati atau pasar seni ini terletak di daerah Gianyar. Pasar ini menjual berbagai kerajinan seni khas Bali seperti sandal manik-manik, pakaian, tas, lukisan, patung kayu, dan lain-lain dengan harga yang terjangkau, asal kalian bisa tawar-menawar tentunya. Pasar ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WITA.

Di sini saya membeli oleh-oleh untuk keluarga dan titipan teman-teman saya. Memborong kain bali, baju untuk keponakan, dan beberapa lukisan untuk koleksi pribadi yang sekarang saya letakkan di kamar saya. 



7. Pabrik Joger
Liburan di Bali belum cukup rasanya kalo juga belum mampir ke Joger. Joger dikenal dengan pabrik kata-kata yang nyeleneh, berlokasi di kawasan jalan raya Kuta. Tempatnya sangat strategis, cukup 10 menit dari bandara Ngurah Rai (kalo gak macet kayak di Jakarta).

Untuk harga kaos-kaosnya bervariasi, mulai dari Rp50.000 sampai dengan ratusan ribu, tergantung dari ukuran bajunya. Saya pun tertarik dengan salah satu kaos dengan kata-kata nyelenehnya. Ya paling gak, saya punya satu kaos Joger supaya menandakan kalo saya pernah ke sini, hahaha.

8. Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana adalah sebuah taman wisata terletak di tanjung Nusa Dua, kira-kira 40 km di sebelah selatan Denpasar. Di area taman budaya ini, akan didirikan sebuah maskot Bali, yaitu patung berukuran raksasa Dewa Wisnu setinggi 12 meter.

Di kawasan ini terdapat juga Patung Garuda setinggi 18 meter yang tepat di belakang Plaza Wisnu. Daya tarik utamanya GWK ya untuk melihat patung Garuda Wisnu ini. 


patung Wisnu

patung Garuda

Selain patung-patung seperti patung Garuda Wisnu, kami juga menghabiskan waktu untuk bisa menikmati sunset. Jadi, sambil menunggu sunset-nya nongol, kami menikmati pertunjukan-pertunjukan yang bervariasi di sini, seperti ada tari Kecak atau ada juga Balinese Parade




Bali, i'll be back to you soon..

Salam ransus,

Pulau Dewata - Bali
6-11 November 2008