Tuesday, June 23, 2015

Mahameru (Part 1) : Menuju Tanah Tertinggi Pulau Jawa

Setelah membiarkan blog ini cukup lama kosong dan berdebu, akhirnya saya memulai lagi perjalanan (menulis) saya *sapuin blog*.. Tepat setahun yang lalu saya mendapat ajakan dari sepupu saya, Anna, yang pengen banget menginjakkan kaki di Mahameru.

Kalian tau kan Gunung Semeru? 3676 meter di atas permukaan laut, orang-orang bilang itu adalah puncaknya para dewa. Pemandangannya yang indah seperti yang ada di lukisan-lukisan, bahkan di negeri dongeng. Serius. Ini beneran.

Entah apa yang ada di benak saya pada saat itu, sehingga saya meng-iya-kan ajakan Anna, dan memberanikan diri untuk ikut melangkah ke tanah tertinggi pulau Jawa itu.


Semeru Track Map

Kami memutuskan menggunakan jasa Trip Organizer (TO) dari Wisata Gunung. Dan karna kami daftarnya sudah agak mepet, jadi tiket kereta yang disediakan oleh TO sudah habis. Jadilah saya, Anna, dan kakak saya, langsung berburu tiket kereta api sendiri menuju meeting point di stasiun Malang.

Persiapan kami untuk mengurus keperluan dan perlengkapan tinggal satu bulan lagi. Persiapan yang dimaksud disini misalnya, surat keterangan sehat dari Dokter, perlengkapan hiking seperti tas keril, sleeping bag, matras, jaket, dan perlengkapan lainnya, dimana perlengkapan tersebut saya tidak punya semua. Maklum, saya bukan anak gunung. Oya, kesiapan mental dan fisik juga harus ada.

Grup kami di beri nama grup Wakatobi yang berisi 7 orang, yaitu : Iwan, Dery, Benny, Dennis, Kak Ita, Anna, dan saya. Dan di dampingi oleh Widi, sang fasilitator Wakatobi.

Sabtu, 21 Juni 2014
Oke, perjalanan dimulai hari ini. Saya, kak Ita, Ana, Dennis dan Benny janjian di stasiun senen jam 3 sore. Oya, Dennis dan Benny baru kenal di trip ini, sebelumnya kita cuma kontek-kontekan lewat grup di WA. Sisa peserta dan panitia lainnya akan langsung ketemuan di stasiun Malang.



Banyak ritual yang harus kami lakukan sebelum naik kereta. Misalnya : makan, cari cemilan, (maaf) pup, pipis, kalo perlu mandi juga hahaha.. Maklum, soalnya kami akan menghabiskan waktu kurang lebih 14 jam perjalanan (itu juga kalo on time) di dalam kereta. Bayangin aja.. Iya, coba kalian bayangin sendiri ya (saya sih ogah bayanginnya lagi) kalian akan duduk sebangku bertiga, dimana kursinya tegak lurus dan hanya sekecil daun kelor, bertabrakan kaki dengan penumpang yang ada di depan kalian, bertatapan mata dengan orang-orang yang kalian gak kenal sebelumnya selama empat belas jam.


                                                           IYA, EMPAT - BELAS - JAM!

Okeh, setelah ritual selesai, kereta Majapahit sudah nangkring dengan gagahnya menunggu kedatangan kami. Iya, kami manusia-manusia modal dengkul ini akan berangkat dari stasiun pasar senen jam 17.20 WIB dan akan sampe di stasiun Kotabaru Malang jam 8 pagi keesokan harinya (yah, itu juga kalo on time!) peace, kang masinis..

Minggu, 22 Juni 2014
Nah kan, ga on time kan.. Pantat udah panas, badan encok, perasaan resah dan gelisah menunggu datangnya stasiun Kotabaru Malang yang tak kunjung tiba. Molor 2 jam, pemirsah.. Tepat jam 10 pagi kami sampai di stasiun Kotabaru Malang, dan di sambut "panas" oleh teman-teman lainnya, dan pas banget cuaca Malang saat itu panas banget.

Angkot sewaan sudah terpampang nyata di depan stasiun Malang, siap untuk mengantar kami ke pasar Tumpang untuk sarapan pagi dan sekalian melengkapi bahan-bahan logistik untuk lima hari ke depan. Sekitar 30 menit, kami pun sampai di pasar Tumpang. Oke, saatnya be.. lan.. ja..

Jam 12 tepat kami berangkat dari pasar Tumpang menuju rest area (saya lupa nama rest area-nya apa) untuk bertukar kendaraan dengan menggunakan Jeep menuju Pos Pendakian Ranu Pani. Pasti ada yang nanya, kenapa sih naik angkotnya gak langsung sampai ke Ranu Pani aja? FYI, semenjak wisata di Malang ini booming, warga setempat akhirnya membagi-bagikan "jatah tempat" antara supir angkot dan kendaraan Jeep. Jadi sekarang mobil Jeep sudah tidak bisa lagi di pesan dari stasiun Malang (sebelumnya bisa).

Waktu perjalanan kira-kira 2 jam untuk sampai ke Ranu Pani. Jalan bebatuan dan rusak yang kami tempuh, tak mengurangi rasa kebersamaan dengan teman-teman untuk lebih mengenal satu sama lain. Sambil melihat pemandangan sekitar yang penuh dengan hamparan bungan edelweis, tak terasa kami sudah sampai di Ranu Pani.


mukanya masih pada seger :)

RANU PANI, di ketinggian 2100 mdpl kami semua berkumpul di pos pendakian untuk pengecekan perlengkapan treking oleh pihak yang berwajib. Pengecekan yang standard, kami harus memperlihatkan apakah kami masing-masing orang membawa matras, sleeping bag, sepatu treking, tidak membawa segala jenis sabun, dan tidak membawa benda-benda tajam tentunya. Oya, perlengkapan yang gak penting di bawa atau yang hanya berat-beratin keril kalian, bisa di titipkan disini. Nanti pas pulang di ambil lagi jangan lupa yak..

Setelah pengecekan selesai, kami di bawa ke sebuah warung makan. Ini adalah tempat yang biasa anak-anak gunung pakai sebagai base camp mereka untuk makan, tidur, atau (maaf) buang air besar/kecil, bahkan mandi. Karna ini adalah WC satu-satunya dan terakhir sebelum kami harus gali lubang tutup lubang.

Makan siang sudah, bercanda sudah, mandi, buang-buang yang gak penting sudah, oke saatnya berangkat menuju Ranu Kumbolo. Iya, Ranu Kumbolo! Denger namanya aja saya udah deg-degan dan merinding, hahaha.. iya emang lebay sih, tapi emang itu yang saya rasain pada saat itu.  Butuh waktu 5-6 jam untuk sampai kesana.

Kami berdoa bersama minta keselamatan agar pergi dan pulang sampai dengan selamat. Ingat guys, puncak adalah bonus dari sebuah perjalanan. Kebersamaan, kekeluargaan, perjuangan dan kembali pulang yang menjadi hal penting dari sebuah perjalanan :)


Ranu Pani - 22 Juni 2014

Menuju Ranu Kumbolo, guys..

Ranu Pani
22 Juni 2014

No comments:

Post a Comment