Wednesday, December 10, 2014

Jalan-jalan ke Museum, yuk!

"Hari gini jalan-jalan ke Museum?" Beberapa orang pasti ada yang bertanya seperti itu. Jangan salah loh, museum-museum di Jakarta sekarang penampilannya makin bersih, makin kece dan makin rapih.

Hari minggu, saya dan sepupu saya, sebut saja namanya Anna (bukan nama yang sebenarnya) merencanakan untuk jelajah Museum yang ada di Jakarta. Salah satu yang masuk dalam list yang akan kami kunjungi yaitu Museum Nasional (yang dulu bernama Museum Gajah), dan Museum Galeri Nasional.

Museum Nasional
Menuju museum ini, saya dan Anna menggunakan transportasi bus Trans Jakarta. Naik dari halte Grogol 2 yang menuju Harmoni, lalu turun di Harmoni untuk transit dan pindah jalur. Lalu dari Harmoni naik yang ke arah Blok M, dan turun di Monas. Dari halte Monas, kalian bisa langsung melihat Museum Nasional ini. Murah meriah, hanya Rp. 3.500 ongkosnya.

Tepat di depan gerbang pintu Museum Nasional ini, saya melihat sebuah patung sebagai icon museum ini yang sangat unik, yaitu sebuah patung modern yang menggambarkan tentang pusaran waktu yang artinya menghubungkan masa lalu dengan masa depan lewat barang-barang peninggalan sejarah. 



Masuk ke dalam museum ini akan dikenakan biaya Rp. 5.000 untuk dewasa, dan untuk anak-anak Rp. 2.000, sedangkan untuk WNA sebesar Rp. 10.000. Setelah bayar tiket masuk dan menitipkan tas, saatnya kami menjelajah museum. Oya, kalian diperbolehkan membawa kamera jenis apa saja koq ke dalam museum ini :D

Untuk lebih detilnya, mengenai sejarah dan asal muasal Museum ini, kalian bisa baca mengenai Museum Nasional ini disini


Welcome ^^

Apalagi kalo bukan arca, candi dan prasasti yang terdapat di museum ini. Terdapat juga koleksi-koleksi keramik dari mancanegara tertata rapih disini. Saya sangat kagum dan bangga melihat Museum ini. Pikir saya dalam hati "hmm.. Indonesia kaya banget sih..".

Ada salah satu pajangan di Museum ini yang membuat saya "wah" dan bangga sebagai Warga Negara Indonesia. Ini dia..

Maaf, fotonya mencong.. maklum yg motoin amatiran..

Dari Museum Nasional, kami beranjak ke Museum Galeri Nasional Indonesia di dekat stasiun Gambir. Dari Museum Nasional, kami naik Trans Jakarta lagi dan turun di Gambir 1. Dari gambir 1, jalan sedikit melalui dalam stasiun Gambir, ikuti arah saja sampai ke pintu gerbang selanjutnya, lalu sudah terlihat gedung Museum ini.

Museum Galeri Nasional
Galeri Nasional Indonesia mengoleksi berbagai koleksi karya seni diantaranya yaitu Seni RUpa, berupa : Lukisan, Sketsa, Grafis, Patung dan Fotografi Seni Kriya dan Etnik. Masuk ke Museum ini gratis tiss tisss sodara-sodara.. Jadi gak ada alasan kalo kalian ga sempetin mampir ke tempat karya seni anak Bangsa sendiri. 

Seperti halnya Museum Nasional yang mempunyai icon tersendiri, Museum Galeri Nasional ini juga mempunyai ciri khasnya yaitu, sebuah tembok yang di lukis yang menggambarkan bahwa Indonesia kaya akan karya seni. 

Biasanya disini banyak yang antri untuk mengambil foto.

Wall of Art :)

Art banget gak sih.. hahaha

Ahh, museum ini keren banget. Rasanya saya pengen upload semua foto-foto yang saya ambil disini. Tapi gak mungkin dong foto-foto bercampur foto narsis saya memenuhi blog ini. Hahaha..

Museum ini terbagi dari 3 gedung, gedung A biasanya diisi galeri pameran temporer. Gedung B diisi dengan galeri pameran tetap. Sedangkan gedung C pada saat saya kesana sedang renovasi.

Saya dan Anna langsung menuju Gedung B terlebih dahulu, karna di Gedung A antriannya lagi panjang banget. Di gedung B ini terdapat banyak sekali koleksi lukisan-lukisan para seniman. Bagus. Keren. So artistic..


Setelah dari gedung B, saya dan Anna melanjutkan ke gedung A. Di gedung A ini sedang ada pameran berjudul "Apa Kabar, Ibu?". Dari judulnya aja saya sudah penasaran. Antriannya lumayan panjang disini. Karna berbentuk karya seni seseorang, jadi pengunjung yang masuk dibatasi, tidak boleh terlalu banyak. 

Setelah antri kira-kira 20 menit, saya dan Anna langsung masuk dan di suguhi oleh karya-karya seniman yang sangat unik dan kreatif. Semua bertemakan Ibu..


Demi Ucok! Makkkkk..


Kalian liat foto saya yang terakhir? Tembok itu dihiasi dengan tulisan para pengunjung berupa kata-kata untuk seorang Ibu. Lucu, sedih, terharu. Bermacam kata-kata unik di tembok ini. Sepertinya tembok ini menjadi luapan atau curahan hati para pengunjung untuk mengungkapan kasih sayangnya kepada sang Ibu.

Coretan Apa Kabar, Ibu?

Last but not least.. Ini dia cousin in crime saya Jingga alias Bodat alias Anna :) Dapet salam dari Anna, katanya minta diajak jalan-jalan kemana pun saya berjalan. 

Yaelah, dat.. ngintil muluk ^^




Salam ransus,

Museum Nasional & Museum Galeri Nasional 
23 November 2014

Monday, October 20, 2014

FamTrip to Kuala Lumpur : Bukit Bintang - Central Market - Petaling (Day 3)

Hari terakhir di Malaysia. Minggu, 9 Desember 2012. Hari ini kami habiskan waktu jalan-jalan ke Bukit Bintang, Central Market, Jalan Petaling, dan kembali ke bandara. Jadwal pesawat akan lepas landas pukul 19.30 waktu setempat.

Sebelum berangkat, kami sudah checkout dari hotel, tapi menitipkan koper-koper kami di storage yang sudah hotel sediakan (for free).

Dari hotel, kami menuju KL Sentral lagi untuk jalan ke Bukit Bintang. Bukit Bintang ini seperti Orchard Road di Singapura. Banyak tempat perbelanjaan dan tempat makan di sisi jalan.

Cara ke Bukit Bintang, yaitu dari KL Sentral kami naik KL Monorail Line dan turun di Bukit Bintang. Sampai di sana kami menikmati kota Malaysia, dan sebelumnya kami sarapan pagi dulu di McD di sekitaran Bukit Bintang. Saya sangat antusias melihat dekorasi Natal yang tertata rapi di setiap sudut jalan, sangat terasaaa sekali suasana Natal di sini…

  

Setelah ngiter-ngiter di Bukit Bintang, sekarang saatnya ke Central Market atau yang sering disebut Pasar Seni. Pasar Seni di sini seperti Mangga dua di Jakarta. Banyak barang khas Malaysia yang dijual di sini. Di sinilah tempatnya wisatawan berburu oleh-oleh.

Cara ke Central Market: gunakan LRT Kelana Jaya Line dan turun di stasiun Pasar Seni. Setelah sampai di stasiun Pasar Seni, ikuti saja papan yang menunjukkan panah ke arah Central Market.

Kami sudah bisa melihat tulisan bangunan berwarna biru muda bertuliskan Central Market dari kejauhan. Lalu, tinggal seberangi jalan yang ada jalan layang di atasnya dan kalian akan sampai di Central Market.


Central market juga bersuasana Natal :)

Ada banyak barang unik yang dijual di sini. Iya, sesuai namanya, Pasar Seni, yang dijual di sini kebanyakan adalah barang-barang kesenian. Tapi, selain barang-barang kesenian, di sini juga dijual coklat, tas, aneka oleh-oleh, pernak-pernik, dan lainnya. Jika bebelanja di sini, usahakan untuk menawar dahulu. Kalian bisa mendapat barang dengan harga lebih murah jika kalian bisa menawarnya. Mama saya dan tante memborong coklat dengan aneka rasa, hahaha… katanya untuk oleh-oleh cucu di Jakarta.

Puas bebelanja di Central Market, saatnya isi perut. Di sekitar Central Market juga banyak tukang jualan makanan (dari sisi belakang Central Market). Kami melipir untuk mengganjal perut. Seperti biasa, di sini kebanyakan toko makan yang menjual nasi kare (o my God… mencium baunya saja saya mual).

Setelah makan siang, kami ingin melihat-lihat ke Jalan Petaling. Kata orang-orang posisinya dekat dengan Central Market. Kami jalan saja mengikuti petunjuk arah yang ada, dan sesekali bertanya kepada penduduk setempat.

Setelah berjalan cukup panjang, kami menemukan Jalan Petaling. Petaling ini mirip seperti Pasar Baru yang ada di Jakarta. Berbentuk jalanan yang di sisi kiri dan kanannya banyak tukang jualan seperti tas, baju, sendal, dan pernak-pernik khas Malaysia.

Seperti ini penampakkannya…

Jalan Petaling

Mirip dengan Pasar Baru, bukan?

Ternyata barang-barangnya sama saja dengan di Central Market. Malah di sini sedikit lebih mahal! Alhasil kami tidak membeli apa-apa di Petaling. Dan langsunglah kami beranjak ke hotel untuk mengambil koper-koper kami. 

Sesampainya di hotel, kami mengemasi barang-barang yang kami beli tadi. Lalu, langsung kami menuju KL Sentral lagi untuk ke bandara KLCC menggunakan Aerobus yang sudah kami pesan pada keberangkatan kemarin.

Tiba di KLCC pukul 18.00 dan kami langsung check-in serta mengurus imigrasi. Pesawat lepas landas pukul 19.30 dari KLCC, dan tiba di Jakarta pukul 20.30.

Anyway, ini trip pertama saya bersama keluarga (murni untuk refreshing, setelah sekian tahun keluarga kami menetap di Jakarta). We were so happy. Semoga bakal ada trip-trip lain lagi bersama. Amin :) 

Btw, merry Christmas everyone!

Salam hangat dari keluarga saya :)

Salam ransus,

Kuala Lumpur
7-9 Desember 2012
(it will be Christmas soon, too, in 2014 :D)

Wednesday, October 15, 2014

FamTrip to Kuala Lumpur : Genting Highlands - Twin Tower (Day 2)

Sabtu pagi di hari kedua di KL ini, tujuan kami yaitu ke Genting Highlands. Dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia, tempat ini merupakan satu-satunya tempat berjudi daratan yang legal di Malaysia.

Untuk mencapai Genting Highlands dari KL Sentral, dapat ditempuh dengan dua kali perjalanan. Pertama, dengan bus menuju Skyway. Kedua, menggunakan cable car atau kereta gantung menuju ke Genting Highlands.

Kami menggunakan bus dari stasiun KL Sentral dengan bus Genting Express, harga tiket RM 10,30 untuk orang dewasa, dan untuk anak-anak RM 9,20. Harga ini sudah termasuk dengan tiket cable car.

O ya, bus menuju Genting Highlands ini juga tersedia di terminal Puduraya, Putra LRT Gombak, KLIA Express, dan Pasarakyat. Dari stasiun KL Sentral, perjalanan bus memakan waktu kurang lebih 2 jam untuk mencapai Skyway.

Sesampainya di Skyway, kami harus melanjutkan dengan menggunakan cable car atau kereta gantung. Nah! Ini adalah salah satu alasan saya ingin sekali ke Genting Highlands, yaitu menaiki cable car ini. Maklum, belum pernah naik kereta gantung, sekalipun yang ada di Ancol atau TMII, hehehe…

Cable car akan mengantarkan kami melintasi bukit-bukit menjulang selama kurang lebih 15 menit.

Ngantre mau naek cable car



Tak ada hal lain yang dapat kami lakukan di dalam cable car ini, selain melihat pemandangan yang monoton yaitu bukit-bukit nan hijau dan apalagi kalo bukan untuk foto-foto. Saya pun mengambil beberapa foto pemandangan dari dalam cable car dan foto selfie juga wajib hukumnya, hahaha… 

Udara dingin seketika masuk ke setiap ujung badan saya saat turun dari cable car
Yey, welcome to Genting Highlands! Saran saya, jangan lupa bawa jaket atau syal, karna udaranya lumayan dingin di sini. Saya yang terbiasa dengan suhu panasnya ibu kota, udara di Genting Highlands ini memang terasa sangat dingin, hehehe… maklum wong ndeso.

Lokasi pertama yang kami tuju setelah turun dari cable car ini adalah Theme Park. Untuk mencapai ke sana, pengunjung disediain shuttle bus. Theme Park merupakan kawasan tempat bermain, terdiri dari dua jenis yaitu indoor dan outdoor


Selfie sambil menunggu bus menuju Theme Park

Di indoor Theme Park tersedia banyak wahana permainan, seperti gondola yang pemandangannya dibuat semirip Venice di Italia, mini roller coaster, dan masih banyak lagi wahana yang rata-rata disiapkan untuk anak-anak.

Sedangkan, di outdoor permainannya sedikit lebih menantang, di sini tersedia lima jenis halilintar atau roller coaster, yaitu Corkscrew, Cyclone, Flying Coaster, Flying Dragon, dan Rolling Thunder Mine Train.

Saya dan keluarga tidak mencoba semua permainan itu, baik di indoor maupun outdoor, hiks… Kami hanya mengabadikan momen-momen di dalam Theme Park dan ternyata Casino yang dimaksud legal di Malaysia tersebut ada di dalam Theme Park ini, jadi kami foto-foto saja di depan Casino. 

Price list / harga tiket masuk Theme Park..
with MOM



Selesai makan siang di Genting, kami beranjak menuju KLCC (Kuala Lumpur City Centre). Dari Genting Highlands ke KLCC sama halnya berangkat tadi pagi, kami naik bus yang sama ke arah KL Sentral.

Lalu, dari KL Sentral, kami langsung pindah dengan LRT Putra/Kelana Jaya untuk menuju Petronas Twin Tower, landmark paling tersohor dari Malaysia. Kata orang, belum sah datang ke Malaysia kalau belum berfoto di depan menara kembar yang pernah menyandang status menara tertinggi di dunia itu.

Menara Petronas memang luar biasa. Sayangnya, kami tidak naik ke atas dan berada di jembatan penghubung antara kedua menara karna jam buka menara ini hanya di pagi hari untuk para wisatawan.

Ya udahlah, yah narsis dulu kita…



Selesai berfoto-foto di luar Twin Tower, kami beranjak masuk ke KLCC Suria Shopping Center. KLCC Suria ini, ya, seperti layaknya mal yang ada di Indonesia pada umumnya. Tapi, di sini harganya sedikit lebih murah dibanding Jakarta, misalnya saja seperti toko Charles & Keith atau VNC, di Malaysia harganya lebih murah daripada toko di Jakarta. Mungkin karna nilai tukar mata uangnya yang berbeda. Alhasil, kesempatan untuk kakak-kakak saya berburu barang-barang murah untuk kepentingan pribadi maupun untuk oleh-oleh. Momen ini di persembahkan oleh VNC dan Charles & Keith, hahaha..

Sisters : )

Setelah (mereka) puas belanja, kami langsung pulang kembali ke My Hotel.

Dan ketika melewati jalan yang sama pada malam pertama kami lewati, ternyata bapak yang tukang jualan duren masih ada di sana, hehehe… tapi stok duren sudah tinggal sedikit karna kami pulang sudah agak malam. Jadilah kami hanya membeli tiga buah duren dengan harga RM 10.

Perjalanan yang cukup melelahkan hari ini dari darat ke bukit, dari bukit ke darat lagi… : )

See ya tomorrow, kami akan belanja oleh-oleh di Bukit Bintang dan Central Market.

Friday, October 10, 2014

FamTrip to Kuala Lumpur : Batu Caves (Day 1)

Ini kali kedua saya pergi ke Malaysia, tapi kali ini liburan bersama keluarga. Sedangkan, yang pertama kali, saya bersama dengan teman-teman ransel saya (nanti akan saya ceritakan di lain waktu, okey).

Jalan-jalan kali ini sebenernya pengennya pas Natal di luar negeri, sudah lama rasanya saya dan keluarga tidak merasakan Natalan di luar. Tapi, karna kalo mendekati Natal, harga tiket pesawat itu gila-gilaan, jadilah kami berangkat sebelum Natal. Saya pergi dengan para orang tua (mama, tante—adiknya mama—dan dua orang kakak saya), orang tua semua, bukan? Hehe...

Setelah hunting tiket murah, saya memperoleh tiket pesawat ke KL pulang-pergi sebesar Rp520.000 per orang dengan pesawat Tiger Mandala. Lumayanlah, pada waktu itu tiket ini bisa dibilang tiket murah. Sekarang sih mungkin masih bisa juga dapet harga segitu, asal kalian pantengin mulu website dengan tiket penerbangan murah.

Karna saya sudah pernah ke sana sebelumnya, maka saya ditugasi untuk membuat itinerary. Dalam membuat itinerary ini pun harus banyak yang dipikirin, harus cari hotel yang dekat dengan MRT station supaya para “orang tua” tadi tidak terlalu jauh berjalan kaki. Dan akhirnya, dapatlah hotel yang lumayan dekat dari MRT station, yaitu di My Hotel @ KL Sentral di Jalan Thambipillay no. 51-53, Brickfields.

Jumat, 7 Desember 2012 tepat pukul 7.30 pesawat take off dari Terminal 3 Bandara International Soekarno-Hatta menuju Kuala Lumpur. Tiba di KL, di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal) pukul 10.30 pagi. 

Selesai mengurus imigrasi, kami langsung mencari tiket bus yang ke arah KL Sentral. Di sepanjang jalan setelah melewati imigrasi ini, terdapat banyak counter yang berjejer menjual tiket bus, baik yang ke arah KL Sentral, Genting Highlands, maupun ke Bukit Bintang, mulai dari bus ekspres sampai dengan bus ekonomi.

Kalo menurut saya, ini dia cara yang paling murah menuju KL Sentral: belilah tiket Aerobus seharga RM 8 untuk sekali jalan (atau setara dengan Rp25.600, pada waktu itu nilai tukar MYR ke IDR sebesar Rp3.200 per RM 1).

O ya, kita juga bisa langsung membeli tiket untuk pergi dan pulang (two ways) harganya lebih murah yaitu RM 14. Jauh lebih murah dibanding beli one way di KL Sentral untuk kembali ke LCCT sebesar RM 10. Jadi, lebih baik langsung aja beli tiket untuk pulang-pergi di sini. Tiket bus ini tidak ada tanggalnya, jadi bisa dipakai kapan saja, karna tiket ini berlaku untuk satu bulan. Lumayan.

Aerobus

Satu jam waktu yang ditempuh dari LCCT ke KL Sentral. Dan tepat jam 12 siang kami tiba di KL Sentral. FYI, KL Sentral ini kurang lebih seperti terminal Blok M kalo di Jakarta. Setelah itu, kami langsung menuju hotel untuk check-in. Jarak stasiun KL Sentral ke My Hotel kira-kira 200 meter, lumayanlah jaraknya untuk kaki seorang mama saya yang sudah berumur, tapi masih semangat untuk berjalan sambil gerekin koper.

Urusan check-in hotel selesai, kami menaruh barang-barang dan langsung keluar untuk mencari makan siang di sekitaran hotel saja. Mencari makanan di sini tidak terlalu rumit, karna jenis makanannya juga gak jauh beda dengan masakan Indonesia, dan di sini juga banyak koq makanan halal : ). (baca juga yang ada tentang masakan bu Lis, hehe: Indahnya BROMO…).

Selesai makan siang, tujuan pertama kami yaitu ke Batu Caves. Cara paling praktis dan murah menuju Batu Caves ini adalah naik KTM Komuter Sentul Port Klang (lihat peta MRT di bawah ini, jalur warna merah nomor 2) dari stasiun KL Sentral dengan harga RM 1 per orang dan turun di stasiun Batu Caves. Sedangkan, untuk perjalanan kembali ke stasiun KL Sentral dikenakan tarif RM 2



Rute / peta transportasi (sila di zoom)

Perjalanan menuju Batu Caves dan sebaliknya ditempuh dalam waktu 1.800 detik a.k.a 30 menit.

Batu Caves merupakan tempat ibadahnya orang Hindu di Malaysia. Yang menarik dari tempat ini adalah kuil-kuil Hindu di dalam gua serta patung Dewa Murugan yang menjulang tinggi sekitar 43 meter. Patung ini merupakan patung dewa Hindu tertinggi ukurannya di dunia.

Batu Caves

My sister.. : )


Di Batu Caves terdapat 3 gua utama dan satu gua kecil, dan bisa melihat kehidupan kekelawar-kelelawar di dalam gua. Untuk melihat gua tersebut, kita harus menaiki tangga sebanyak 272 anak tangga. Mama dan kakak saya tidak ikut naik. Saya sendiri saja yang masih “lumayan” muda ini harus mengambil istirahat beberapa kali sebelum sampai ke kuil utama, hahaha...



Ini dia di dalam gua setelah melewati 272 anak tangga..


Selesai dari Batu Caves, kami beranjak pulang ke hotel untuk istirahat. Sebelumnya, kami mencari makan malam dulu di sekitar hotel. Saya lupa nama tempat makannya, tapi itu tempat makan khas India gitu, jadi kebanyakan yang tersedia makanan kare. Karna saya gak suka sama makanan kare (karna baunya yang menyengat), jadi saya beli ayam goreng dan nasi putih saja. Teh tarik khas Malaysia jangan sampe lupa dicicipi, karna jauh lebih enak buatan orang sini dibanding teh tarik kemasan yang dijual di pasaran.

O ya, pas kami jalan pulang ke arah hotel, ada seorang bapak yang jualan duren di mobil bak terbuka gitu. Iseng-iseng tawar-menawar ternyata harganya dapet RM 10 untuk 3 buah duren. Wahhh… murah banget, buah durennya juga enak, padet dan tebal, hahaha… Khilaf, kami beli RM 30 yang harusnya dapet 9 buah, tapi kita tawar lagi jadi dapet 10 duren, hahaha…

Dan kami pun pesta duren bersama.


Besok pagi kami akan ke Genting dan Twin Tower.

Good night…


Monday, September 8, 2014

Indahnya BROMO ..

Yak, siapa yang gak kenal Gunung Bromo coba? Semua orang pasti tau, dan biasanya orang-orang pergi ke Gunung Bromo ketika acara rekreasi sekolah atau kelulusan masa sekolahnya. Tapi tidak dengan saya. Akhir tahun 2013 yang lalu saya baru menginjakkan kaki di Gunung Bromo. Merasa terlambat? Ya gak lah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Kali ini saya akan bercerita tentang indahnya Gunung Bromo. Perjalanan saya kali ini menggunakan kereta api menuju Malang, namun karna sudah kehabisan tiket kereta yang langsung menuju Malang, alhasil saya dan beberapa teman yang lain menggunakan kereta api via Surabaya dulu. 


Jumat pagi saya bertemu dengan beberapa teman yang berangkat dari Jakarta, di Stasiun Kota dengan Kereta Api Gaya Baru Malam menuju Surabaya. Kereta berangkat pukul 11.30 siang, perjalanan ini memakan waktu hampir 14,5 jam. Hmm… ini pertama kalinya saya naik kereta api untuk pergi ke luar kota yang hampir seharian aktivitasnya berada di dalam kereta. Ya, inilah nikmatnya jalan-jalan a la backpack / a la ransel / a la gembel atau apa ajalah itu sebutannya, yang mampunya beli tiket kereta api kelas ekonomi (tapi AC ya) demi sebuah "perjalanan". But I enjoyed it, for sure!


Tibalah saya di Stasiun Gubeng, Surabaya pukul 02.00 dini hari. Saya akan melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan KRL Commuter Penataran menuju Malang. Namun, karna kereta akan jalan pukul 05.00 pagi, jadi saya dan teman-teman lainnya menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk mencari sarapan pagi. Dan toko yang buka hanya Indomaret, jadilah saya membeli roti dan kopi serta cemilan untuk pagi ini dan untuk stok di kereta. Sisanya kami habiskan waktu untuk tidur-tiduran atau sekadar memejamkan mata saja di dalam stasiun.


Akhirnya, pukul 5 pagi kereta berangkat menuju Malang. Sekitar 3 jam perjalanan menuju Malang, dan tepat pukul 8 pagi kami tiba di Stasiun Malang. Sambil menunggu rekan-rekan lainnya yang belum datang, karna ada sebagian teman-teman kami yang naik pesawat, dan ada sebagian yang sudah stay di Malang dari dua hari yang lalu, saya istirahat dulu menghirup udara segarnya kota Malang di pinggiran stasiun, dan disambut dengan matahari Malang yang sangat terik namun tetap bersahabat.


Yey, finally


Sebelum melanjutkan perjalanan, seperti biasa dan telah menjadi tradisi, kami numpang foto-foto dulu, kali ini di depan Balai Kota Malang. Numpang pamer, biar ada kenang-kenangan kalo saya pernah menginjakkan kaki di Malang, hahaha... 


Hai, Malang..

Perjalanan kami lanjutkan menuju homestay dengan mencarter angkot yang ada di sekitar balai kota ini. Hampir satu jam perjalanan menuju homestay yang berada di Desa Gubuk Klah. Jam 11 siang tiba di homestay, kami langsung disuguhi makan siang oleh Ibu Lis (nama ibu yang punya homestay). FYI, masakan bu Lis ini enakkk bangettt, apalagi sambel dan tempe goreng yang tebel-tebel itu, juaraaa banget! Ini gak lebay, serius… banyak temen travelers yang kangen sama tempe + sambel bu Lis. Saya salah satunya!

Hap hap… setelah makan siang, kami langsung siap-siap untuk rafting di Sungai Amprong. Saya sangat antusias sekali ikut rafting ini. Maklum perdana nih ikut rafting, hahaha...


Sambil nunggu giliran pengarungan, kami ngopi-ngopi dulu ditemani dengan udara yang agak mendung, sambil foto-foto di rest area N'dayung (nama EO rafting tersebut). Setelah siap-siap dan memakai perlengkapan rafting, kami diangkut dengan mobil bak terbuka untuk diantar ke spot rafting yang terletak di atas bukit, dan dilanjutkan lagi dengan jalan kaki (trekking) melintasi bukit-bukit tersebut.


Okay, we are ready for rafting...



sebelum pengarungan, dikasih pengarahan dulu


Yes, we are ready!



Pengarungan selesai yang diakhiri dengan hujan lebat. Waktu menunjukkan pukul 6 sore ketika kami kembali ke homestay. Berhubung kamar mandi hanya ada dua biji, jadi sambil nunggu antrean, mending sambil makan malam aja dulu daripada ntar udah kehabisan, ya gak? hahaha...

Seperti biasa, sambel nikmatnya bu Lis ini bikin kepikiran terus (kemudian nambah dua piring), nom nom!


Waktu udah menunjukkan pukul 8 malam, saatnya kami tidur karna nanti harus bangun subuh untuk persiapan menuju pananjakan Bromo. Tapi masih ada sih beberapa teman yang masih bangun, masih  main gitar, masih main kartu, dan masih ha-ha hi-hi...


Minggu, jam 1 pagi kami saling membangunkan satu sama lain. Kali ini saya gak pake acara mandi karna udara terlalu dingin sampe menusuk tulang (iya, ini agak lebay sih). Lalu kami berangkat pukul 2 pagi dengan menggunakan jeep yang sudah parkir di depan homestay dengan gagahnya. Lagi-lagi karna udara pagi ini sangat dingin, apalagi anginnya sangat kencang kalo untuk berdiri di belakang Jeep, jadi saya memutuskan untuk duduk di depan saja—di samping supir.


Dua jam kemudian sampailah kami di Gunung Bromo. Masih terlalu gelap untuk melihat-lihat indahnya Bromo. Ahh, saya gak sabar... Kami pun mulai trekking menuju ke pananjakan 2 (Seruni Point) untuk mengejar sunrise. Di sini ada beberapa tukang jualan yang menjual kopi, teh, pop mie, dan pisang goreng. Sambil menunggu matahari terbit, saya memesan kopi panas dan pisang goreng untuk menghangatkan badan yang menggigil ini.


Tepat pukul 4.30 matahari mulai menampakkan dirinya. Kami pun mulai mangabadikan momen-momen ini. Tapi sayangnya karna sedikit mendung, jadi ketika gelap berubah menjadi terang, kabut pun datang menutupi awan. Hasil jepretan sunrise saya pun tak seindah yang saya harapkan. Jadi yang saya pamerin foto-foto selfie aja ya :b.


O ya, kebetulan waktu di puncak Bromo pas banget tanggal 22 Desember, so I dedicate this photo for my mom... Happy mother's day, mom! Maapken anakmu ini, Mah, di saat hari Ibu dia malah jalan-jalan entah ke mana…



Diedit sih, tapi yang penting niatnya kan :))



Setelah itu, kami bergegas ke bawah untuk ke kawah Bromo. Untuk mecapai puncak kawah Bromo ini, kita harus melewati hamparan pasir yang sangattt luas. Di sini juga banyak kuda-kuda yang disewakan sampai ke bawah anak tangga kawah Bromo. Per kuda bisa disewa seharga Rp 50.000 per orang untuk PP (pulang-pergi) atau tergantung tawar-menawar kalian dengan si kuda juga sih, hahaha...

Kalau saya memilih ga pake sewa kuda, jalan santai aja lah nanti juga sampe sendiri walopun ternyata cape juga. Setelah melewati hamparan pasir-pasir ini, barulah menaiki anak-anak tangga untuk sampai ke puncak kawah Bromo. Keliatan dari bawah, kayaknya tangganya dikiiit banget ya… Eh ngos-ngosan juga ternyata, padahal belum ada setengah anak tangga, saya udah kebanyakan berhentinya untuk ambil nafas, hahaha…

Sampailah saya di puncak kawah gunung Bromo. Cape euy… Tapi terbayarlah sudah sesampainya di atas. Menikmati pemandangan dari atas itu tuh suatu kepuasan tersendiri loh. Nikmatnya tuh di siniii *nunjuk kaki *pegel maksudnya hahaha…


Berikut penampakan saya di atas kawah Gunung Bromo, dengan muka ala kadarnya seolah-olah gak cape aja gituh. Ehem…


2.200 M.Asl

Tangga penyesalan, keliatannya pendek! Padahal.. ngos-ngosan juga..

Udah sampe puncak, saatnya turun. Kami turun tidak melewati tangga-tangga itu lagi, tapi turun langsung melewati pinggir kawah tersebut yang berpasir. Saya pun baru tau kalo turun gunung melewati pasir-pasir maka cara turunnya itu pake tumit kaki belakang, biar gak terjungkir katanya.

Okey, akhirnya sampe juga di bawah. Sambil istirahat dan menunggu teman-teman yang masuh turun, saya mau beli bakso malang dulu yang banyak berjejer dijual di sekitaran Gunung Bromo ini. Lumayanlah, walaupun saya makannya juga terburu-buru, ini bukan karna laper banget, melainkan karna di sini banyak banget kuda-kuda beserta dengan kotorannya yang berserakan di mana-mana, hehehe…


O ya, kurang afdol ga sih kalo ke Bromo yang notabene perjalannya pake jeep, tapi belom foto sama si jeep-nya. Maapken atas ke-selfie-an saya ini lagi...



Macam model papan penggilesan

Kami akan melanjutkan perjalanan ini ke pasir berbisik dan bukit teletubies. Yey! Namun karna lagi-lagi masalah waktu, jadi ketika tiba di pasir berbisik dan bukit teletubies, kami hanya mengabadikan gambar, lalu langsung bergegas pulang menuju homestay karna target jam 12 siang harus berangkat menuju Stasiun Malang. 

Bukit Teletubies.. *kemudian berpelukan*

Dari bukit teletubies kami langsung kembali ke homestay. Tiba di homestay, langsung packing dan makan siang. Ahhh, rasanya berat sekali meninggalkan rumah ini dan Ibu Lis tentunya, atau lebih berat meninggalkan tempe dan sambel si Ibu? Hahaha…

Minggu siang, tiba saatnya kembali ke Jakarta menggunakan KA Matarmaja, menyiapkan mental karna harus duduk selama kurang lebih 18 jam di dalam kereta. Tapi ada yang lebih berat lagi sih, ketika melihat realitas bahwa kembali ke rutinitas awal setelah liburan yang menyenangkan itu memang sangat berat, Jenderal

Tapi inilah hidup, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari setiap perjalanan saya. Saya kembali ke Jakarta dengan hati yang baru dan mempersiapkan lagi rencana untuk trip ke tempat yang baru juga… : )

I really missed this people!

JUST DON'T, baby ..

Note for share: biaya perjalanan ini sebesar Rp710.000 per orang, sudah termasuk tiket KA ekonomi (pp), angkot (pp), homestay (share room), makan makanan yang sampe lo pada dijamin kekenyangan, jeep, rafting, tiket masuk wisata, dan dokumentasi gratis, serta guide yang sangat friendly. Semua bisa kalian dapatkan di Trip to Hidden Paradise. Really-really, highly recommended. 

Ps: special thanks to Mas Andri and Mas Yama, for 4 days being our good guides. You both are so kind. See you next trip, mas-mas : ). Thank you.


Salam ransus,

Gunung Bromo - Malang
20-23 Desember 2013