Sunday, August 10, 2014

Surga di Ujung Barat Pulau Jawa

Apa yang pertama kali terlintas di benak ketika kalian mendengar kata Ujung Kulon? Pasti jawabannya badak, kan? Iyap betul… tapi, pasti ada yang lebih lagi.

Sekilas tentang Taman Nasional Ujung Kulon, pulau ini terletak di bagian paling barat Pulau Jawa. Untuk mencapai ke Ujung Kulon ini, persiapkanlah tubuh yang fit :D karna perjalanan memakan waktu kurang lebih 10 jam, yaitu perjalanan darat dan laut. Tapi semua beban itu akan terbayarkan ketika kita sudah sampai di pulau tersebut. Trust me!


Jumat, 11 Oktober 2013 
Perjalanan saya kali ini ikut dengan rombongan Backpacker Indonesia (BPI), jadi saya sudah terima beres, tinggal bayar uang trip dan bawa diri saja (bawa perlengkapan tempur juga tentunya). Kami berkumpul di meeting point Plaza Slipi Jaya jam 8 malam (sepertinya lokasi ini menjadi tempat favorit para backpakers ya, hehe).

Okey sesuai skejul, saya dan teman-teman datang ke Slipi jaya tepat pukul 8 malam. Namun seperti biasa, jalanan di hari Jumat malam ini sangat macet, cet, cet, apalagi tepat pas jam orang pulang kantor. Weekend pula, jadi banyak yang datang telat. Akhirnya setelah peserta komplet, kami berangklat tepat pukul 10 malam dengan menggunakan elf yang udah di sewa panitia menuju desa 
Taman Jaya (Taman Jaya adalah pintu masuk utama menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon).

Sabtu, 12 Oktober 2013 
Sekitar kurang lebih 7 jam di dalam mobil, akhirnya sampai juga di Taman Jaya atau lebih sering disebut Sumur. Badan udah berasa encok, pantat pun sudah mati rasa, hehehe… Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, perahu kayu pun belum ada penampakannya. Sambil menunggu pagi, kami pun disuguhi pisang goreng dan teh manis untuk sarapan pagi. 

Matahari mulai menapakkan dirinya, kami pun berangkat dari Taman Jaya tepat pukul 7 pagi menuju Pulau Peucang - Ujung Kulon. 
Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan perahu kayu. Ahh, tak sabar rasanya mata ini ingin melihat pantai yang katanya berpasir putih itu. 

Tibalah saya di Pulau Peucang. Astaga, dari kejauhan saja mata saya langsung melihat sesuatu yang indah, mulut ini tak henti-hentinya berucap dalam hati, "Busettt… keren banget ini pantai." Saya pun langsung mengabadikan momen-momen indah ini dari depan dermaga. 

FYI, menurut salah satu traveler kondang ibu kota, Pulau Peucang merupakan salah satu pantai terbaik yang paling dekat dengan Pulau Jawa dengan pasir putih halus dan air laut bergradasi biru tak berombak. Saya pun setuju dengan beliau serta mengakuinya :)


Pulau Peucang


Dan sebelum kami berpencar-pencar, karna pastinya masing-masing dari kami pasti ada yang mau foto-foto sendiri ato guling-gulingan sambil kayang di pantai, kami pun foto bersama terlebih dahulu. Ini dia penampakan orang-orang yang haus akan laut dan langit biru, liat aja matanya ada lope-lope-nya di udara… hahaha…


* udah janjian disuruh pake baju putih, tapi masih ada aja yang pake warna lain, HAHAHA..


Setelah itu, saya juga mengambil beberapa gambar di pantai supaya kalian bisa melihat juga betapa indahnya pantai Peucang ini. Pasir putih pantai ini lembuuut banget kayak bedak bayi, saking lembutnya sampe ga bisa digenggam, suerrr…! 

Airnya juga bening, gradasi warna airnya dari kejauhan cantik banget: putih, biru muda, biru toska, dan biru tua. Foto-foto ini semua tanpa editan loh, hehe… O ya, di pantai ini juga terdapat satwa-satwa liar seperti monyet, babi, dan rusa yang bebas berkeliaran di pinggir pantai maupun di depan penginapan kami yang siap mencuri makanan atau iseng nyolong baju!


Babi hutan aja betah maen di pinggir pantai, cuma ada di Ujung Kulon!


Okey, setelah cape poto-poto dan jungkir-balik di pinggir pantai, saatnya pembagian jatah preman (kamar, makan, dan ngantri WC tetep… o ya, satu lagi siap-siap rebutan stop kontak pastinya hahaha karna jam 12 malam listrik disini baru nyala sampai dengan jam 6 pagi).

Panitia memesan dua rumah, satu rumah khusus wanita dan satu lagi untuk pria. Setelah rutinitas bersih-bersih dan urusan perut kelar, nah saatnya nyebur. Kami langsung berangkat untuk snorkling di Citerjun - Ciapus - Cikembang dengan perahu kayu yang kami sewa tadi. 

FAUNA -- tempat penginapan kami
Para monyet di depan jendela penginapan


Hari pun sudah mulai sore, setelah capek snorkling ke 3 spot yang berbeda, sekarang saatnya kami kembali ke penginapan untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung pergi untuk trekking ke Karang Copong untuk mengejar sunset.

Karang Copong adalah tempat paling tepat untuk melihat matahari terbenam yang terindah di Pulau Peucang.

Sebelum pergi, kami diminta untuk bersiap dengan membawa perbekalan dan air minum secukupnya karna perjalanan yang akan ditempuh lumayan jauh, sekitar dua sampai tiga kilometer.

Perjalanan dimulai, kami memasuki hutan yang tidak jauh dari penginapan. Saat masuk hutan, sudah terlihat ada jalan setapak, yang biasa dilewati petugas Taman Nasional untuk patroli dan melihat keadaan hewan liar yang hidup di dalamnya. Semakin ke dalam, semakin besar pohon-pohon yang terlihat.

Hampir satu jam kami berjalan, tibalah kami di area yang pepohonannya mulai jarang, digantikan dengan hamparan pantai. Pantai ini disebut Pantai Karang Copong, disebut begitu karna ada karang besar yang memiliki lubang di pantainya.

Pantai Karang Copong ini lebih berombak, dan pantainya dipenuhi karang-karang besar. Untuk melihat Karang Copong lebih dekat, kami melanjutkan perjalanan sedikit lagi, menuju bagian pulau yang lebih tinggi.

Di sini perjalanan semakin menanjak, namun rimbunan pohon tak sebanyak ketika di hutan tadi. Berjalan sekitar 10 menit, kami tiba di atas tebing, dengan pemandangan Karang Copong. Sekilas pemandangan ini mirip dengan pemandangan di Tanah Lot, jadi berasa seperti lagi liburan ke Bali, hehehe…


Pantai Karang Copong

Sunset dari bukit Karang Copong

Setelah menikmati indahnya sunset pantai Karang Copong, kami pun kembali ke penginapan untuk makan malam, lalu dilanjutkan dengan santai bersama dan ada sedikit games untuk saling mengenal teman-teman yang lainnya.

Minggu, 13 Oktober 2013 
Ini hari terakhir di Ujung Kulon, saatnya packing untuk kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, sesuai skejul kami akan mampir ke pulau Handeuleum dan bermain kano dulu.

Tiba di pulau Handeuleum, kami menikmati pemandangan di pinggir pantai yang agak landai namun tak berpasir putih. Isi pulau ini tidak terlalu luas, ada beberapa wisma yang disewakan untuk para wisatawan. Di dekat wisma ada lapangan yang lumayan luas, dan saya melihat anak-anak pulau sedang asik bermain futsal disitu. Disini kami tidak begitu mengeksplor pulau ini karna keterbatasan waktu.


With Christine -- my travelmate, hahaha..


Setelah mengitari pulau Handeuleum, saatnya saya dan teman-teman yang lain bermain kano di sungai Cigenter. Untuk berkano dikenakan biaya tambahan sebesar Rp50.000 per orang. Satu kano kecil bisa terisi untuk 6 orang dan 1 orang guide-nya, sedangkan untuk kano yang lebih besar bisa masuk 10 – 12 orang. Ini adalah pertama kalinya saya bermain kano. Seru sih, apalagi kiri-kanannya itu langsung hutan belantara, jadi berasa kayak di Sungai Amazon, hahaha…

Saya pun penasaran untuk mencoba mandayung. Ternyata, mendayung itu tak semudah yang saya bayangkan. Dayungnya itu berat juga ternyata. Akhirnya, saya hanya bertahan sekitar 10 menit pertama mendayung, dan selebihnya dayung itu saya oper ke cowo-cowo yang tenaganya lebih kuat, hehe... dan kita para wanita tinggal duduk aja menikmati pemandangan sungai ini, dan foto-foto tentunya (ahh.. dasar wanita..).

Harusnya sih di sini kita bisa ketemu langsung sama badak bercula satu, tapi entah kenapa mungkin itu badak lagi pada tidur siang semua, jadi pada ngumpet di dalam hutan. Yang ketemu cuma jejak kaki badak dan kotorannya, hehehe… O ya, di sini kita diingetin lagi sama guide-nya supaya menjaga ucapan/omongan selama berkano, dan jangan bersuara atau tertawa terlalu keras. Katanya sih karna banyak satwa-satwa liar, seperti buaya, jadi kalo kita bersuara keras takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.



Tim grasak grusuk


Setelah berkano ria, kami kembali ke peradaban. Kembali menikmati lautan, dan menikmati matahari terbenam di dalam perahu menuju perjalanan pulang. Sungguh indah.

Anyway, trip seru kali ini hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 625.000,- sudah all in! Sudah sewa mobil elf (pp), sewa angkot (pp), perahu, makan, penginapan, trekking, biaya masuk antar-pulau, dan snorkling. Untuk kano adalah pilihan optional, karna tidak semua peserta mau ikutan bermain kano. : ) 

So, am I lucky enough to go to this Ujung-Kulon-Island? No, I'm not. I'm blessed! 



Salam ransus,

Ujung Kulon
11-13 Oktober 2013

Saturday, August 9, 2014

Jangan Tunda ke Pulau Tunda

Tunda!

Yap, nama yang agak aneh ya untuk nama sebuah pulau. Tapi, akhirnya saya berangkat juga ke pulau Tunda bareng temen-temen backpacker saya.

Tunda adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten.

Oke, perjalanan dimulai ya. Dari halte Slipi Jaya, saya janjian dengan teman-teman yang lain sekitar pukul 5 pagi (lewat dikitlah ya…). Lalu, setelah tunggu-menunggu, kami langsung naik bis ke arah Merak dan keluar di pintu Tol Serang Timur.

Perjalanan kurang lebih memakan waktu 2 jam untuk sampai di Serang. Sesampainya di Serang, kemudian perjalanan kami lanjutkan dengan menyewa angkot sampai ke dermaga kecil bernama Karangantu.

Waktu tempuh sampai ke dermaga kira-kira 45 menit. Setelah melewati jalanan yang cukup panjang dan bergelombang karena jalanan agak rusak, sampailah kami di dermaga Karangantu.

Dermaga Karangantu


Kemudian, kami melanjutkan perjalanan dari dermaga Karangantu dengan menggunakan perahu kayu milik nelayan untuk sampai ke pulau Tunda. Jeng-jeng-jeng… pelayaran dimulai dari sekarang! 

Menurut saya, perjalanan laut itu sedikit membosankan, selain membutuhkan waktu yang cukup lama, kita juga bakal bingung mau ngapain aja selama perjalanan di dalam perahu. Biasanya nih… di jam-jam pertama perjalanan itu, saya pasti selfie-an dulu di atas perahu, lalu biasanya saya mengambil gambar laut dan langit yang biru.

Setelah itu apa? Update status!! Hahaha, maklum mumpung sinyal masih ada, karna kalo udah sampe pulau, sinyal sih wassalam. Abis itu, kalo udah cape ya tidur deh di dalam perahu, hahaha.

O ya, sepanjang dermaga Karangantu ini, banyak sekali kerangka-kerangka kapal maupun perahu-perahu nelayan yang sudah usang bahkan berkarat dan di diamkan begitu saja disana.


Kerangka kapal

Perjalanan kurang lebih memakan waktu hampir 4 jam. Namun, sebelum sampai di pulau Tunda, kami diantar dulu ke salah satu pulau kecil di sana, yaitu pulau Lima. Ya, pulau Lima. Saya gak salah nulis koq, hahaha.

Pulau Lima merupakan salah satu pulau yang ada di kawasan laut Banten. Pulau ini hanya memiliki 3 bangunan rumah/vila untuk wisatawan yang ingin menginap di sana. Pasir putih dan air yang jernih membuat pulau ini menjadi nilai plus untuk wisatawan yang berkunjung ke sana.


Pulau Lima

selfie dulu, teteup :D





Sesudah berfoto dan ber-selfie ria, kami melanjutkan perjalanan utama kami lagi.

Setengah jam kemudian, tibalah kami di pulau Tunda. Yey, akhirnya sampai juga!

Saya sempat sedikit kaget dengan kondisi pulau ini, karna di pinggir dermaga masih banyakkk terdapat timbunan sampah-sampah... Sayangnya, saya lupa mengabadikan momen ini...

Warga pulau Tunda ini juga hanya sedikit, hanya terdiri dari masyarakat lokal saja. Saya pun sempat mencari-cari di mana letak pantainya dan pasir putih pulau ini. Ternyata belum ada, sodara-sodara… hiks… yang ada hanyalah hutan bakau (mangrove) di tepi pantai…

Baiklah, kami langsung menuju tempat penginapan, dan langsung disuguhi makan siang yang begitu lezat… tau aja perut saya sudah keroncongan dari tadi.

ini penampakan depan rumah warga yang kami sewa


Perut sudah terisi. Pembagian kasur pun sudah (padahal tidurnya juga di ruang tamu semua dengan satu kasur rame-rame!). Rebutan toilet juga sudah. Sekarang waktunya nyebur, yey!

Berangkatlah kami ke tengah pulau untuk snorkling. Spot snorkling yang pertama ternyata kurang bersih, masih banyak sampah yang menghalangi penglihatan ke dasar laut… jadi kami minta untuk pindah spot saja.


Di spot kedua ini, barulah kami semua nyebur ke dasar laut. Sedih sekali rasanya melihat pulau secantik ini, tapi masih ada saja sampah-sampah yang menyebar… Kata warga sekitar sih, katanya sampah-sampah tersebut adalah sampah kiriman dari pulau-pulau sekitar yang terbawa air laut.


Setelah asik dan lupa kalau tangan sudah keriput karna kelamaan di dalam air dan waktu pun sudah sore, sekarang saatnya melihat matahari terbenam. Sambil berburu sunset, kami pun dihidangkan kelapa hijau dan jagung bakar di dekat mercusuar. 

kelapa ijooo














senja di bawah mercusuar


Di hari kedua, walaupun kami snorkling di tempat yang berbeda, saya masih melihat sampah yang mengganggu penglihatan saya… jadi akhirnya setelah pindah spot (lagi), setelah itu barulah kami menikmati indahnya dasar laut beserta ikan dan karang yang warna-warni.

Setelah asik snorkling dan kembali ke penginapan untuk packing, maka saatnya saya dan teman-teman harus meninggalkan pulau ini.


Kami pun pulang dengan membawa sejuta kenangan dan keindahan tentang pulau ini. Terima kasih atas keramahan warga pulau Tunda terhadap wisatawan, kalian selalu tersenyum dan menyapa kami dahulu


Mudah-mudahan ketika saya datang lagi ke sini, pulau Tunda jadi semakin bersih dan makin rame para wisatawannya.


Sebelum kami take off mengarungi lautan (yailah lebay!, hahaha), ga lupa kami pun berfoto di depan dermaga pulau Tunda. Ini dia penampakannya…
Full Team


Tebak jempol.. Jempol siapa yang paling besar?!..

So, guys… tunggu apa lagi, jangan tunda liburan kalian ke pulau Tunda, atau kalian akan menyesal karna tidak mencicipi indahnya laut negeri tercinta ini.

Salam ransus,


Pulau Tunda

31 Mei – 1 Juni 2014