Apa yang pertama kali terlintas di
benak ketika kalian mendengar kata Ujung
Kulon? Pasti jawabannya badak, kan? Iyap betul… tapi, pasti ada yang lebih lagi.
Sekilas tentang Taman Nasional Ujung Kulon, pulau ini terletak di bagian paling barat Pulau Jawa. Untuk mencapai ke Ujung Kulon ini, persiapkanlah tubuh yang fit :D karna perjalanan memakan waktu kurang lebih 10 jam, yaitu perjalanan darat dan laut. Tapi semua beban itu akan terbayarkan ketika kita sudah sampai di pulau tersebut. Trust me!
Sekilas tentang Taman Nasional Ujung Kulon, pulau ini terletak di bagian paling barat Pulau Jawa. Untuk mencapai ke Ujung Kulon ini, persiapkanlah tubuh yang fit :D karna perjalanan memakan waktu kurang lebih 10 jam, yaitu perjalanan darat dan laut. Tapi semua beban itu akan terbayarkan ketika kita sudah sampai di pulau tersebut. Trust me!
Jumat, 11 Oktober 2013
Perjalanan saya kali ini ikut dengan rombongan Backpacker Indonesia (BPI), jadi saya sudah terima beres, tinggal bayar uang trip dan bawa diri saja (bawa perlengkapan tempur juga tentunya). Kami berkumpul di meeting point Plaza Slipi Jaya jam 8 malam (sepertinya lokasi ini menjadi tempat favorit para backpakers ya, hehe).
Okey sesuai skejul, saya dan teman-teman datang ke Slipi jaya tepat pukul 8 malam. Namun seperti biasa, jalanan di hari Jumat malam ini sangat macet, cet, cet, apalagi tepat pas jam orang pulang kantor. Weekend pula, jadi banyak yang datang telat. Akhirnya setelah peserta komplet, kami berangklat tepat pukul 10 malam dengan menggunakan elf yang udah di sewa panitia menuju desa Taman Jaya (Taman Jaya adalah pintu masuk utama menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon).
Sabtu, 12 Oktober 2013
Sekitar kurang lebih 7 jam di dalam mobil, akhirnya sampai juga di Taman Jaya atau lebih sering disebut Sumur. Badan udah berasa encok, pantat pun sudah mati rasa, hehehe… Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, perahu kayu pun belum ada penampakannya. Sambil menunggu pagi, kami pun disuguhi pisang goreng dan teh manis untuk sarapan pagi.
Matahari mulai menapakkan dirinya, kami pun berangkat dari Taman Jaya tepat pukul 7 pagi menuju Pulau Peucang - Ujung Kulon. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan perahu kayu. Ahh, tak sabar rasanya mata ini ingin melihat pantai yang katanya berpasir putih itu.
Tibalah saya di Pulau Peucang. Astaga, dari kejauhan saja mata saya langsung melihat sesuatu yang indah, mulut ini tak henti-hentinya berucap dalam hati, "Busettt… keren banget ini pantai." Saya pun langsung mengabadikan momen-momen indah ini dari depan dermaga.
FYI, menurut salah satu traveler kondang ibu kota, Pulau Peucang merupakan salah satu pantai terbaik yang paling dekat dengan Pulau Jawa dengan pasir putih halus dan air laut bergradasi biru tak berombak. Saya pun setuju dengan beliau serta mengakuinya :)
Perjalanan saya kali ini ikut dengan rombongan Backpacker Indonesia (BPI), jadi saya sudah terima beres, tinggal bayar uang trip dan bawa diri saja (bawa perlengkapan tempur juga tentunya). Kami berkumpul di meeting point Plaza Slipi Jaya jam 8 malam (sepertinya lokasi ini menjadi tempat favorit para backpakers ya, hehe).
Okey sesuai skejul, saya dan teman-teman datang ke Slipi jaya tepat pukul 8 malam. Namun seperti biasa, jalanan di hari Jumat malam ini sangat macet, cet, cet, apalagi tepat pas jam orang pulang kantor. Weekend pula, jadi banyak yang datang telat. Akhirnya setelah peserta komplet, kami berangklat tepat pukul 10 malam dengan menggunakan elf yang udah di sewa panitia menuju desa Taman Jaya (Taman Jaya adalah pintu masuk utama menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon).
Sabtu, 12 Oktober 2013
Sekitar kurang lebih 7 jam di dalam mobil, akhirnya sampai juga di Taman Jaya atau lebih sering disebut Sumur. Badan udah berasa encok, pantat pun sudah mati rasa, hehehe… Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, perahu kayu pun belum ada penampakannya. Sambil menunggu pagi, kami pun disuguhi pisang goreng dan teh manis untuk sarapan pagi.
Matahari mulai menapakkan dirinya, kami pun berangkat dari Taman Jaya tepat pukul 7 pagi menuju Pulau Peucang - Ujung Kulon. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan perahu kayu. Ahh, tak sabar rasanya mata ini ingin melihat pantai yang katanya berpasir putih itu.
Tibalah saya di Pulau Peucang. Astaga, dari kejauhan saja mata saya langsung melihat sesuatu yang indah, mulut ini tak henti-hentinya berucap dalam hati, "Busettt… keren banget ini pantai." Saya pun langsung mengabadikan momen-momen indah ini dari depan dermaga.
FYI, menurut salah satu traveler kondang ibu kota, Pulau Peucang merupakan salah satu pantai terbaik yang paling dekat dengan Pulau Jawa dengan pasir putih halus dan air laut bergradasi biru tak berombak. Saya pun setuju dengan beliau serta mengakuinya :)
| Pulau Peucang |
Dan sebelum kami berpencar-pencar,
karna pastinya masing-masing dari kami pasti ada yang mau foto-foto sendiri ato
guling-gulingan sambil kayang di pantai, kami pun foto bersama terlebih dahulu.
Ini dia penampakan orang-orang yang haus akan laut dan langit biru, liat aja
matanya ada lope-lope-nya di udara… hahaha…
| * udah janjian disuruh pake baju putih, tapi masih ada aja yang pake warna lain, HAHAHA.. |
Setelah itu, saya juga mengambil
beberapa gambar di pantai supaya kalian bisa melihat juga betapa indahnya
pantai Peucang ini. Pasir putih pantai ini lembuuut banget kayak bedak bayi, saking
lembutnya sampe ga bisa digenggam, suerrr…!
| Babi hutan aja betah maen di pinggir pantai, cuma ada di Ujung Kulon! |
Okey, setelah cape poto-poto dan
jungkir-balik di pinggir pantai, saatnya pembagian jatah preman (kamar, makan,
dan ngantri WC tetep… o ya, satu lagi siap-siap rebutan stop kontak pastinya hahaha karna jam 12 malam listrik disini baru nyala sampai dengan jam 6 pagi).
Panitia memesan dua rumah, satu rumah khusus wanita dan satu lagi untuk pria. Setelah rutinitas bersih-bersih
dan urusan perut kelar, nah saatnya nyebur. Kami langsung berangkat untuk snorkling di Citerjun - Ciapus - Cikembang
dengan perahu kayu yang kami sewa tadi.
| FAUNA -- tempat penginapan kami |
| Para monyet di depan jendela penginapan |
Hari pun sudah mulai sore, setelah
capek snorkling ke 3 spot yang berbeda, sekarang saatnya kami
kembali ke penginapan untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung pergi untuk trekking
ke Karang Copong untuk mengejar sunset.
Karang Copong adalah tempat paling tepat untuk melihat matahari terbenam yang
terindah di Pulau Peucang.
Sebelum pergi, kami diminta untuk
bersiap dengan membawa perbekalan dan air minum secukupnya karna perjalanan
yang akan ditempuh lumayan jauh, sekitar dua sampai tiga kilometer.
Perjalanan dimulai, kami memasuki hutan yang tidak jauh dari penginapan. Saat
masuk hutan, sudah terlihat ada jalan setapak, yang biasa dilewati petugas
Taman Nasional untuk patroli dan melihat keadaan hewan liar yang hidup di
dalamnya. Semakin ke dalam, semakin besar pohon-pohon yang terlihat.
Hampir satu jam kami berjalan, tibalah kami di area yang pepohonannya mulai
jarang, digantikan dengan hamparan pantai. Pantai ini disebut Pantai Karang
Copong, disebut begitu karna ada karang besar yang memiliki lubang di
pantainya.
Pantai Karang Copong ini lebih berombak, dan pantainya dipenuhi karang-karang besar. Untuk melihat
Karang Copong lebih dekat, kami melanjutkan perjalanan sedikit lagi, menuju
bagian pulau yang lebih tinggi.
Di sini perjalanan semakin menanjak, namun rimbunan pohon tak sebanyak ketika
di hutan tadi. Berjalan sekitar 10 menit, kami tiba di atas tebing, dengan
pemandangan Karang Copong. Sekilas pemandangan ini mirip dengan pemandangan di
Tanah Lot, jadi berasa seperti lagi liburan ke Bali, hehehe…
![]() |
| Pantai Karang Copong |
![]() |
| Sunset dari bukit Karang Copong |
Setelah menikmati indahnya sunset pantai Karang Copong, kami pun
kembali ke penginapan untuk makan malam, lalu dilanjutkan dengan santai bersama
dan ada sedikit games untuk saling mengenal teman-teman yang lainnya.
Minggu, 13 Oktober 2013
Ini hari terakhir di Ujung Kulon, saatnya packing untuk kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, sesuai skejul kami akan mampir ke pulau Handeuleum dan bermain kano dulu.
Tiba di pulau Handeuleum, kami menikmati pemandangan di pinggir pantai yang agak landai namun tak berpasir putih. Isi pulau ini tidak terlalu luas, ada beberapa wisma yang disewakan untuk para wisatawan. Di dekat wisma ada lapangan yang lumayan luas, dan saya melihat anak-anak pulau sedang asik bermain futsal disitu. Disini kami tidak begitu mengeksplor pulau ini karna keterbatasan waktu.
Minggu, 13 Oktober 2013
Ini hari terakhir di Ujung Kulon, saatnya packing untuk kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, sesuai skejul kami akan mampir ke pulau Handeuleum dan bermain kano dulu.
Tiba di pulau Handeuleum, kami menikmati pemandangan di pinggir pantai yang agak landai namun tak berpasir putih. Isi pulau ini tidak terlalu luas, ada beberapa wisma yang disewakan untuk para wisatawan. Di dekat wisma ada lapangan yang lumayan luas, dan saya melihat anak-anak pulau sedang asik bermain futsal disitu. Disini kami tidak begitu mengeksplor pulau ini karna keterbatasan waktu.
![]() |
| With Christine -- my travelmate, hahaha.. |
Setelah mengitari pulau Handeuleum,
saatnya saya dan teman-teman yang lain bermain kano di sungai Cigenter.
Untuk berkano dikenakan biaya tambahan sebesar Rp50.000 per orang. Satu kano
kecil bisa terisi untuk 6 orang dan 1 orang guide-nya, sedangkan untuk kano yang lebih besar bisa masuk 10 – 12 orang. Ini adalah pertama
kalinya saya bermain kano. Seru sih, apalagi kiri-kanannya itu langsung hutan
belantara, jadi berasa kayak di Sungai Amazon, hahaha…
Saya pun penasaran untuk mencoba mandayung. Ternyata, mendayung itu tak semudah
yang saya bayangkan. Dayungnya itu berat juga ternyata. Akhirnya, saya hanya
bertahan sekitar 10 menit pertama mendayung, dan selebihnya dayung itu saya oper ke
cowo-cowo yang tenaganya lebih kuat, hehe... dan kita para wanita tinggal
duduk aja menikmati pemandangan sungai ini, dan foto-foto tentunya (ahh.. dasar wanita..).
Harusnya sih di sini kita bisa ketemu langsung sama badak bercula satu,
tapi entah kenapa mungkin itu badak lagi pada tidur siang semua, jadi pada
ngumpet di dalam hutan. Yang ketemu cuma jejak kaki badak dan kotorannya,
hehehe… O ya, di sini kita diingetin lagi sama guide-nya supaya menjaga
ucapan/omongan selama berkano, dan jangan bersuara atau tertawa terlalu keras. Katanya sih karna banyak satwa-satwa liar, seperti buaya, jadi kalo kita bersuara keras takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
![]() |
| Tim grasak grusuk |
Setelah berkano ria, kami kembali ke
peradaban. Kembali menikmati lautan, dan menikmati matahari terbenam di dalam
perahu menuju perjalanan pulang. Sungguh indah.
Anyway, trip seru kali
ini hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 625.000,- sudah all in! Sudah sewa mobil elf (pp), sewa angkot (pp), perahu, makan, penginapan, trekking, biaya
masuk antar-pulau, dan snorkling.
Untuk kano adalah pilihan optional, karna tidak semua peserta mau ikutan
bermain kano. : )
So, am I lucky enough to go to this Ujung-Kulon-Island? No, I'm not. I'm blessed!
Salam ransus,
Ujung Kulon
11-13 Oktober 2013






