Sunday, July 12, 2015

Mahameru (Part 3) : Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo, Kalimati

Setelah memanjakan mata di Ranu Kumbolo, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Oya, disini kalian ga perlu pake mandi. Trust me! Hanya bermodalkan tisue basah dan r*xona, kalian pasti akan terlihat seperti-- belum mandi! Ehehehe :) 

Setelah sarapan dan packing kembali barang bawaan kami ke dalam keril, kami siap berangkat menuju Kalimati yang berjarak 7,5 km melewati Cemoro kandang dan Jambangan tepat jam 9 pagi. Kalimati itu tempat kita beristirahat lagi, sebelum summit ke puncak Mahameru.


Wanita tangguh ala-ala..

TANJAKAN CINTA. Ini tanjakan paling hits setelah film 5 cm sukses ditayangkan. Tanjakan cinta adalah salah satu icon dari gunung Semeru, dan yang paling ditunggu-tunggu untuk melewatinya. Kalo saya, bilangnya ini tanjakan jomlo. Mitosnya gini, jadi selama kalian jalan melewati tanjakan cinta, kalian harus terus menatap ke depan sambil memikirkan laki-laki/perempuan yang kalian inginkan, tapi selama treking kalian ga boleh nengok kebelakang. Inget, gak-boleh-nengok-kebelakang! Hasilnya permintaan kalian akan terwujud. Kalo saya, saat itu memikirkan Tom Cruise :'( Doa anak sholehah biasanya sih dikabulin, AMIN!




Yey, saya sudah diatas tanjakan cinta. Kalo dilihat dari foto kelihatannya landai ya.. padahal baru saja saya melangkah 10 langkah sudah langsung ongkek (ongkek = bengek), kasian ya saya. Saya langsung beristirahat dibawah pohon, sambil menunggu teman-teman yang lain yang masih berjuang melawan "cintanya" :( Oke, begini nih pemandangan dari atas tanjakan cinta.



Yap, setelah melewati tanjakan cinta atau sebenarnya sih yang paling-cocok-banget disebut tanjakan penyesalan, akhirnya kami disuguhkan pemandangan yang ga kalah kece. Turunan! Yey, akhirnya ada turunan juga. Thank God! Dan seketika mata saya melihat hamparan bunga berwarna ungu.

ORO-ORO OMBO. Entah kenapa orang-orang menyebutnya itu adalah padang lavender. Mungkin karna bunganya seperti bunga lavender yang berwarna ungu. Padahal bukan. Itu adalah Verbena Brasiliensis Vell.


dilihat dari atas (setelah tanjakan cinta)

Menurut informasi yang saya baca dari mbah google, luas Oro-oro Ombo ini mencapai 20 hektar. Meski terlihat indah, kehadiran Verbena brasiliensis ini justru mencemaskan. Tanaman asing ini bersifat invasif, bisa terus mendominasi dan menguasai habitat sehingga menggusur spesies tanaman asli disana. Ekosistem pun kemudian terganggu.

ampuni ekspresi saya, plis :|
kak Ita

Setelah melewati Oro-oro Ombo, perjalanan ini dimulai lagi menuju pos Cemoro Kandang. Sesuai dengan namanya, kami melewati hutan yang berisi pohon cemara dan pinus. Jangan pernah meremehkan trek cemoro kandang ini, dan jangan mengharapkan adanya turunan. Semuanya menanjak, menanjak, dan menanjak. Bonusnya cuma satu, yaitu istirahat langsung ditempat aja. Sambil istirahat sambil ngobrol sama tim, saling cela, ledek-ledekan, ngambil makanan temen, capek itu langsung terasa hilang.



Setelah istirahat 10 menit di Cemoro Kandang, kami melanjutkan ke pos berikutnya yaitu Jambangan. Dari pos ini kita sudah bisa melihat dengan jelas gunung Semeru. Kami melanjutkan perjalanan ke pos terakhir yaitu Kalimati. 

KALIMATI. Trek perjalanan dari Jambangan menuju Kalimati relatif mudah dan bisa dibilang bonus karna trek cukup landai. Perjalanan kira-kira 30 menit, dan sekitar jam 1 siang kami sudah sampai di Kalimati. Dari sini Gunung Semeru terlihat sangat dekat sekali dan berdiri dengan gagahnya. 


Muka udah gak ke kontrol


Kalimati - 23 Juni 2014

Di pos Kalimati ini terdapat sumber air bersih, namanya Sumbermani. Perjalanan ke Sumbermani dari Kalimati untuk mengambil air saja bisa hampir 45 menit (pulang dan pergi). Cukup jauh memang. Jadi kami membagi tugas, beberapa orang (baca : laki-laki) mengambil air untuk keperluan masak dan stok minum, dan sebagian lagi (baca : cewe-cewe) memasak untuk makan siang kami. Ini adalah pos pemberhentian terakhir, sebelum kami summit ke puncak Mahameru nanti subuh :)

Wednesday, July 8, 2015

Mahameru (Part 2) : Surga Itu Bernama Ranu Kumbolo

Perkenalkan.. ini dia tim saya, Wakatobi namanya, terdiri dari 7 orang. Didampingi fasilitator (guide) bernama Widi, itu tuh yang berdiri di paling kanan. Widi, si pecinta musik death metal tapi berhati Inul Daratista, yang perhatian banget sama timnya. 


Dennis, Dery, Anna, Kak Ita, Iwan, Saya, Benny, Widi

Oya, kami berangkat ke Semeru ini ada dua tim, dan tiap tim harus ada 1 orang fasilitator yang mendampingi tim selama perjalanan. Nah, tim kedua namanya Raja Ampat ada 9 orang dan 1 fasilitator namanya Rizqi 'bocil' dengan moto "badan boleh kecil, tapi kekuatan luar biasa"..

Oke, setelah puas poto-poto di plang kebanggannya para pendaki dengan muka yang masih segar dan sumringah, kami siap berangkat dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo tepat pukul 15.00 WIB. Perjalanan Ranu Pani ke Ranu Kumbolo memakan waktu hampir 4 jam. Estimasi tersebut adalah untuk para pendaki profesional, tetapi untuk kami para pendaki amatir alias pendaki pemula alias pendaki hina (iya, yang terakhir itu khusus untuk saya) mungkin bisa sampai 5-6 jam.

Hepi treking, pemirsah..

Ciri khas dari mendaki gunung yaitu saling menyapa setiap berpapasan dengan sesama pendaki lainnya. Ga terasa sudah melangkah selama dua jam dengan istirahat beberapa kali juga tentunya, akhirnya sampai juga di Pos 1. Sambil meregangkan otot kaki dan pundak disini, kami beristirahat kurang lebih 5-10 menit. 


Pos 1

Tujuan selanjutnya adalah Pos 2 yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan. Jalur pendakian dari Pos 1 ke Pos 2 masih terbilang landai dan tidak ada tanjakan yang terlalu curam. Jujur, saat itu badan saya sudah pegal, bahu saya sudah berteriak kesakitan mengangkat si koneng (keril saya) yang beratnya 45 liter, dan betis sudah berkonde. Tapi semangat untuk melihat Ranu kumbolo begitu besar, sehingga kami saling menyemangati satu sama lain yang sudah mulai kelelahan. Prinsipnya gini, kalo salah satu dari kami capek, maka kami semua harus istirahat. Disini ga pake gengsi, jadi kalo capek ya ngomong.

Pos 2

Nah, dari Pos 2 ke Pos 3 jalurnya mulai terasa tanjakan-tanjakannya. Apalagi selepas Pos 3 ke Ranu kumbolo itu perjuangan banget bro nanjaknya. Medan mulai terasa berat, kemiringan di atas 45 derajat dengan kondisi jalan yang penuh debu dan pasir. 


Pos 3

Hari semakin larut, kami pun belum sampai di tujuan. Kami mulai mempercepat langkah, dan mulai menyalakan headlamp atau senter kami masing-masing. Makin malam juga semakin dingin, walaupun terus berjalan tapi udara dingin tetap terasa, saya pun langsung memakai jaket tebal saya. Ketua tim rombongan mulai menginstruksikan agar mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati karna hari semakin gelap. "Yuk, sebentar lagi sampe Rakum, kalian bisa beristirahat di tenda dan makan", kata Widi. 

Tepat jam 8 malam, akhirnya kami sampai juga di Ranu kumbolo. Malam ini Ranu kumbolo tertutup oleh gelapnya malam. Hari ini memang cukup lelah, setelah makan malam dan merapihkan tenda, kami siap untuk tidur. Cuaca sangat dingin. Mungkin suhu udara malam ini sampai -5 derajat, dan buat saya yang ga tahan sama hawa dingin, saya sudah was-was dengan memakai pakaian double bahkan triple. Celana, baju, jaket, kaos kaki, sarung tangan, semuanya serba berlapis-lapis. Malam ini saya semangat sekali untuk cepat tidur. Kalian pasti tau kan alasannya kenapa. Tired. T-I-R-E-D!

Senin, 23 Juni 2014
RANU KUMBOLO - 06.00 WIB. I'm not a morning person, tapi kalo buat ngeliat keindahan alam hayok dah dipaksain bangun pagi. Diketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut saya berdiri disini. Iya, ini agak lebay sedikit. Takjub, ga percaya kalo saya bisa melihat lukisan se-indah ini. Saat itu saya hanya bisa berfikir, Tuhan lagi ngapain ya atau lagi mikir apa ya saat Dia menciptakan Ranu Kumbolo ini? Kalo kalian sudah pernah kesini, kalian pasti setuju dengan pendapat saya. Ini seperti surga tersembunyi. Iya, surga itu bernama Ranu kumbolo. Sempurna.







Udah cukup foto-fotonya? Belom. Udara pagi di Ranu kumbolo semakin dingin, dinginnya menusuk sampe ke tulang. Tanpa ada aba-aba, kami pun langsung nongkrong di samping kompor sebagai pengganti api unggun. Iya, kami semua kedinginan. Bahkan beberapa bahan makanan seperti minyak goreng pun ikut membeku. Dan makanan yang cocok untuk pagi ini apalagi kalo buka mi instan dan secangkir kopi. Gini nih ekspresi orang-orang yang kelaparan sambil menahan dinginnya pagi.


Here I am, at 2400 meters above sea level. Saat itu saya sedang berdiri sendiri dan bergumam dalam hati, mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas semesta yang Dia ciptakan begitu indah. 



Ranu Kumbolo - 23 Juni 2014

Lanjut ke surga berikutnya Tanjakan cinta, Oro-oro Ombo, Kalimati..